Pesta Rujak

19 04 2007

Negeri kita yang tropis ini memang terkenal dengan buah-buahan yang beraneka ragam. Tercatat dalam prasasti dan kakawin kuno, aneka buah-buahan seperti mangga (Mangifera indica), jambu bol (Anacardium occidentale), salak (Zallaca edulis), nangka (Artocarpus integer), rambutan (Nephelium lappaceum), manggis (Garcinia mangostana), wuni (Antidesma bunius), langsat (Lansium domesticum), jamblang (Syzyqium cumini), jeruk (citrus), durian (Durio zitbethinus), pisang ( Musa), kecapi (Sandoricum koecape) begitu melimpah. Komoditas ini pula yang kerap dijumpai di pasar-pasar desa.

Melimpahnya buah-buahan ini pernah dijadikan kambing hitam oleh Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter pribadi J.P.Coen. Sebab banyak pelaut Eropa pada saat mampir ke Nusantara menjadi sakit karena mereka terlalu berlebihan menikmati aneka buah-buahan itu dan nyaris rakus. Walaupun sebenarnya itu kesalahan mereka sendiri karena setelah berbulan-bulan di atas kapal dan kekurangan vitamin, terutama vitamin C, perut mereka diisi dengan bermacam-macam buah-buahan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Sementara itu dalam laporan penjelajah William Dampier pada 1697 menyebutkan kelapa (Cocos nucifera) dan pepaya (Carica papaya) merupakan buah-buahan utama, sedangkan durian, mangga, manggis, jeruk besar /jeruk Bali (Citrus maxima), rambutan dan berbagai buah-buahan lainnya silih berganti sepanjang tahun. Bahkan mangga yang masih mengkal pun dijadikan teman makan nasi setelah dibuat asinan. Sejak dibawanya pepaya (Carica papaya) dan nenas (Ananas comusus) dari benua Amerika di penghujung abad 17 ke Asia Tenggara, buah-buahan ini berkembang dengan pesat dan dianggap buah-buahan eksotis oleh para turis yang datang kesini.

Buah-buahan yang sudah masak biasanya dinikmati sebagai pencuci mulut setelah menikmati hidangan utama atau dimakan begitu saja. Sedangkan buah-buahan yang masih mengkal biasanya dibuat manisan, asinan dan rujak. Walaupun terkadang buah-buahan yang sudah masak digunakan juga untuk rujak.

Rujak merupakan jajanan yang sangat populer di Indonesia dan Malaysia. Hampir di setiap sudut dapat kita temui penjual rujak dengan gerobak berkacanya. Biasanya untuk penjual rujak keliling ini, bumbu rujaknya telah mereka persiapkan dan ditempatkan di toples kaca sehingga tidak perlu diolah lagi. Supaya buah-buahannya tetap segar dan dingin, bongkahan kecil es batu diletakkan di antara buah-buahan itu.  Ada pula penjual rujak yang mangkal di kios atau warung.

Khusus untuk penjual rujak yang mangkal ini biasanya mereka mengolah terlebih dahulu bumbunya. Sebuah cobek besar dan ulekan selalu tersedia untuk meramu semua bumbu-bumbu tersebut. Sehingga para pembeli dapat memesan, mulai dari yang paling pedas, sedang, hingga tidak pedas. Serta kombinasi rasa lainnya, seperti misalnya pedas manis, sedang manis, dan sebagainya. Dulu rujak itu biasa dibungkus dengan daun pisang dan disematkan dengan potongan biting (lidi), sekarang biasa menggunakan kertas pembungkus atau plastik.

Bumbu rujak itu sendiri terdiri dari ; cabe merah (lombok), cabe rawit, gula jawa, terasi, asam jawa, garam, terkadang ditambahkan kacang tanah yang telah dihaluskan.
Buah-buahan yang biasa digunakan antara lain; mentimun (Cucumis sativus), nanas (Ananas comusus), bengkuang (Pachyrrhizus erosus), mangga muda (Mangifera indica), kedondong (Spondias dulcis), jeruk Bali (Citrus maxima), jambu air (Eugenia aquea), pepaya muda (Carica papaya), ada pula yang ditambahkan semangka (Citrullus vulgaris) dan melon (Cucumis melon).

Di Malaysia, ada rujak yang dikenal dengan nama rujak Penang. Rujak itu memiliki bumbu yang sama dengan rujak di Indonesia. Bedanya di atas bumbu yang telah diguyur di atas potongan buah-buahan itu ditaburi wijen. Ada jenis rujak yang lain. Rujak itu cukup dikenal di Jakarta. Biasanya dijajakan dengan pikulan. Rujak itu dikenal dengan nama rujak bebeg (baca bêbêg). Juga  menggunakan buah-buahan, tetapi kebanyakan buah-buahan yang masih mengkal, seperti ubi merah mentah (Ipomoea batatas), jambu biji mengkal (Psidium guajava), nangka (Artocarpus integer), mangga muda(Mangifera indica) , kedondong (Spondias dulcis) , jeruk bali(Citrus maxima). Bumbu-bumbunya, seperti cabe merah, cabe rawit, gula merah, terasi, dimasukkan ke dalam alat yang disebut lumpang dari kayu kemudian ditumbuk. Lalu buah-buahan yang telah dipotong-potong itu dimasukkan ke dalam bumbu yang telah halus itu sambil ditumbuk hingga tercampur dan lumat. Rujak itu disajikan dengan takir ( pincuk dalam bahasa Jawa) , daun pisang yang disemat dengan lidi. Harganya pun cukup murah karena buah-buahannya masih mengkal. Mungkin saja, sang penjual memperolehnya dengan gratis hingga ia tak perlu menjualnya terlalu mahal. Saat ini penjual rujak bebeg sudah jarang kalaupun ada hanya dapat dijumpai di pinggiran kota Jakarta. Namun, rujak bebeg ini naik statusnya menjadi sedikit bergengsi. Kita dapat menjumpainya di beberapa pusat perbelanjaan ber-AC, berjejer dengan jajanan lainnya. Meskipun alat pengolahnya masih sama, dengan lumpang kayu.

Rujak pun kerap dikonsumsi para remaja, khususnya anak perempuan. Sambil belajar bersama, atau mengobrol kesana-kemari mereka menikmati rujak. Tak jarang ada undangan yang dibuat oleh para remaja itu dengan mencantumkan acara ‘rujakan’ atau ‘pesta rujak’ di dalamnya untuk memeriahkan acara mereka.

Kaum perempuan yang memiliki hasrat kuat dan tiba-tiba menginginkan makanan yang sangat pedas, terutama makanan dari buah-buahan dapat dianggap sebagai tanda pertama kehamilan. Hal ini yang sering disebut ngidam rujak. Menurut kepercayaan, keinginan ini harus dituruti karena jika tidak akan berakibat buruk pada jabang bayi yang dikandung. Nah, jika sang istri ngidam rujak tengah malam, maka sang suami yang kebingungan mencari penjual rujak. Tetapi bila kelak sang istri hamil, makanan pedas ini justru menjadi pantangan.

Penggerutu atau pengkritik nomor wahid dari Belanda pada awal abad 20, Bas Veth yang membenci Hindia Belanda dan menganggapnya hampir sebagai penyakit, menggambarkan rujak sebagai bentuk yang sama sekali tidak lebih baik dari ‘ambrosia’, dewa makanan. Ia menuliskan kesannya mengenai rujak dalam bukunya Het Leven in Nederlandsch Indië yang dalam waktu singkat menjadi best seller. Veth menceritakan tentang pengalaman para penumpang sebuah kapal yang melakukan perjalanan panjangnya dari Belanda ke Hindia Belanda pada tahun 1900:
“Pagi hari: para penumpang Indo berharap dapat menikmati aneka masakan dengan harga yang murah. Harga khusus kaum Indo. Tentu saja di warung-warung. ‘Barangkali nanti dapat roedjak ya,’, ujar salah seorang dari mereka. Roedjak yang disiapkan dengan jambu atau mangga mengkal. Rasanya cukup asam hingga membuat perut orang Eropa sakit dan nanti di dek kapal mereka akan bergulingan kesakitan seperti kera. Barangkali dapat roedjak kata mereka sambil menahan air liur dan seolah mendesis kepedasan”

Pada masa Tempoe Doeloe yang sering disebut jaman normaal yaitu masa sebelum pecah perang dunia kedua, para sinyo dan noni Indo sering memaksa kokkie mereka untuk membuatkan bumbu rujak dengan buah-buahan yang masih mengkal dari pohon-pohon yang tumbuh di keboen belakang rumah.mereka. Mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, si kokkie takut ketahuan nyonya rumah karena pada saat itu adalah jam tidur siang  dan bila ketahuan bisa saja nyonya rumah marah besar karena sinyo dan noni tidak tidur siang. Melanggar aturan.

Dalam adat Jawa, rujak juga diikutsertakan. Seperti pada jamuan upacara memperingati tujuh bulan kehamilan pertama. Tetapi rujak yang dihidangkan dalam upacara ini bukan jenis rujak seperti yang biasa kita nikmati tetapi dalam bentuk seperti minuman manis yang segar. Rujak ini disebut rujak krobo atau gobed yaitu rujak yang terbuat dari bermacam-macam buah-buahan, seperti jeruk bali, delima (Punica granatum) yang dicacah dengan sambal gula yang diberi air asam. Semua ini melambangkan kesegaran. Sedangkan untuk mengetahui jenis kelamin si bayi yang masih dalam kandungan dapat ditandai dengan rasa rujak itu. Rujak itu lalu dihidangkan untuk handai tolan dan tetangga yang menghadiri upacara tersebut. Bila rujak itu terasa pedas, itu suatu tanda bahwa bayi yang dikandung adalah perempuan, sebaliknya bila tidak pedas, maka laki-lakilah bayi itu. Kebiasaan ini masih sering dilakukan baik di desa maupun di kota besar meskipun banyak yang tidak setuju tata cara jamuan ritual animistik ini.

Rujak juga dihidangkan untuk upacara perkawinan adat Jawa. Walaupun untuk yang satu ini tampak jarang dilakukan. Biasanya bila mantu anak sulung, dihidangkanlah rujak manis pada sepasang mempelai itu dan ayah mempelai perempuan. Ibu pengantin perempuan kemudian bertanya: “masih adakah kekurangannya?” . Yang dijawab oleh sang bapak pengantin perempuan; “ tak ada, sudah enak rasanya.” Itu melambangkan bahwa segalanya sudah berlangsung baik tanpa kekurangan dan mereka berharap demikian pula bila mereka mantu lagi.

Bahkan rujak pun dijadikan pola batik yang dikenal dengan nama ‘rujak senté’. Pola batik ini di Yogyakarta dianggap termasuk pola batik ‘larangan’, tidak sembarang orang dapat mengenakannya dan hanya para bangsawan yang diperkenankan mengenakannya. Dalam hal ini pola ‘rujak senté’ hanya boleh dikenakan oleh para anggota keluarga Sultan yang bergelar Raden Mas atau Raden, seperti yang diungkapkan Nyonya Veldhuisen-Djajasoebrata dalam Bloemen van het heelal. De kleurrijke wereld van de textile op Java ( Bunga-bunga semesta. Dunia penuh warna dari tekstil di Jawa).

Musim kemarau ini membuat kita butuh sesuatu yang menyegarkan. Potongan aneka warna buah-buahan segar itu kelihatan begitu menantang. Ditambah guyuran saus sambal berwarna merah kecoklatan di atasnya. Rasanya tak sabar untuk mencicipinya. Ya, itulah rujak,  hidangan yang cocok di saat musim kemarau. Rasanya yang segar, manis dan pedas membuat kita ketagihan walaupun belum tentu cocok bagi lidah Eropa. Tak terasa keringat menetes dan mulut kepedasan.
 





Panjang Umur Dengan Mi

18 04 2007

Elena,  mantan tetangga saya di Belanda menggeleng heran ketika ia menanyakan usia saya. ‘Kalian orang Asia ternyata awet muda. Wajah kalian tidak mencerminkan usia kalian!’ ujar gadis Bulgaria yang studi hukum di sebuah universitas di Belanda. Ia penasaran dan menanyakan rahasianya. Tentu saja, saya sendiri susah menjelaskannya. Hingga suatu ketika kami bersama-sama memasak di dapur yang khusus disediakan untuk para penghuni lantai di apartemen yang kami tinggali. ‘Aha..saya tahu rahasianya. Rupanya ini yang menyebabkan kalian awet muda! ’ serunya sambil menunjuk pada mi instan yang sedang saya masak.

Saya tertawa. Memang menurut mitos Cina, makan mi tanpa terputus dapat membuat umur menjadi panjang. Secara tradisional di antara masyarakat Cina, mi karena bentuknya yang panjang sering digunakan simbol umur panjang, dan selalu disajikan dalam pesta ulang tahun. Tetapi bukan hanya pada pesta peringatan ulang tahun, melainkan juga pada saat upacara pemakaman dengan harapan mereka yang ditinggalkan memiliki umur yang panjang .

Tiba-tiba saya teringat seorang kawan SMA yang kuliah di Universitas Indonesia. Sebagai anak kost, hampir tiap hari ia menyantap mi instant namun bukan umur panjang yang ia dapat melainkan awet muda alias meninggal dalam usia muda. Walaupun saya sendiri menyangsikan apakah benar ia meninggal lantaran banyak makan mi instan.

Mi memang makanan khas dan populer di Asia, khususnya di Asia Timur dan Asia Tenggara. Begitu terkenalnya, bahkan membuat para pedagang Eropa di masa Marcopolo yang pernah singgah di Cina, mengadopsi mi dalam masakan mereka.  Maka saat ini kita dapat menikmati spaghetti , vermicelli dan pettucini yang mirip dengan mi.

Menurut cerita legenda, mi pertama kali dibuat di daratan Cina kira-kira 2000 tahun yang lalu di bawah kekuasaan dinasti Han. Dari Cina, mi berkembang dan menyebar ke Jepang, Korea, Taiwan, Indocina, Asia Tenggara, bahkan meluas ke seluruh dunia termasuk Amerika Serikat dan daratan Eropa. Dalam bahasa Inggris, mi disebut noodle yang sebenarnya berasal dari bahasa Jerman, nudel. Namun asal istilah tersebut tidak jelas.

Sebenarnya seni menggiling gandum dan pembuatan roti telah lebih dahulu berkembang di Timur Tengah: Mesopotamia, Mesir dan Persia. Logikanya, mi juga dikembangkan dan diajarkan sebagai lembaran roti yang tidak mengembang. Tampaknya di Cina, terutama Cina Utara, mi mendapat perhatian sangat khusus.

Menurut Denys Lombard dalam Le Carrefour Javanais ,ada empat jenis makanan khas yang cukup memasyarakat di Nusantara yaitu: mi, pangsit, tim sum dan bakso.  Mi sendiri merupakan salah satu bahan makanan yang diproses dengan cara pengawetan.  Proses ini di Jawa sudah dikenal sejak zaman Mojopahit. Alasannya karena istilah laksa yang masih digunakan di Semenanjung Malaka untuk menyebut semacam bihun muncul dalam  piagam Biluluk yang bertahun 1391. Kata laksa ini kemungkinan berasal dari India. Wilkinson dalam A Malay-English Dictionary (Romanised) menyebutkan bahwa lakhshah berasal dari Persia atau Hindi, dan menjelaskannya sebagai  “a kind of vermicelli”. Namun karena istilah itu sudah ada dalam bahasa Jawa abad ke-14, dapat dipastikan bahwa kata itu berasal dari bahasa Sanskerta, laksa yang berarti seratus ribu; mungkin karena banyaknya jumlah bihun dalam satu porsi.

Masuknya mi ke Nusantara tampaknya dapat juga menjadi hal yang menarik. Alasannya, mi merupakan hidangan khas Cina Utara. Sementara para pendatang dari negeri Tiongkok ke Nusantara, kebanyakan berasal dari Cina Selatan yang cenderung berkebudayaan beras/nasi. Mungkin saja, pengaruh dari utara masuk ke selatan dan orang-orang selatan inilah yang membawanya ke Nusantara.

Di samping itu seluruh kosakata dari masakan khas  tersebut berasal dari Cina, seperti mi (mian) merupakan istilah umum untuk menyebut mi dari tepung beras maupun dari tepung terigu, kemudian bihun (mifen) dan misoa (mianxian) yang terbuat dari tepung beras, Iomi (lumian) dan kuetiao (guotiao) termasuk mi lebar yang berasal dari Fujian. Lalu so’un (fensi) yang terbuat dari pati kacang hijau serta yang terbuat dari tepung terigu dan beras yang disebut shomein. Ketika tepung soba (buck wheat) telah menjadi salah satu bahan pangan pokok, mulailah diperkenalkan mi dari soba.

Tidak lengkap pula jika kita melupakan ‘teman’ makan mi ini yaitu pangsit (bianshi, yang arti sebenarnya “makanan lonjong”) . Lucunya, kata itu dalam bahasa Tagalog menunjuk apa yang dalam bahasa Melayu disebut mi dan biasanya direbus atau digoreng.

Dalam suatu kesempatan saya sempat menyaksikan kebolehan seorang juru masak di sebuah hotel di Jakarta yang khusus didatangkan dari Cina dalam mengolah mi secara tradisional. Pembuatan mi dari terigu asal Cina Utara ini dilakukan dengan cara melempar-lempar adonan ke udara sehingga menjadi tali temali yang panjang, kemudian ditarik, dilipat dan dipotong sehingga menjadi seperti benang atau tali. Menurutnya, adonan mi yang dibuat dengan cara seperti itu dapat menghasilkan tali-tali tebal seperti macaroni. Dengan teknik khusus, yaitu jika penarikan dilakukan 12 kali dan pelipatan dilakukan sebanyak 11 kali maka akan menghasilkan produk mi yang disebut ‘mi jenggot’ atau ‘jenggot naga’. Mi jenggot naga biasanya disajikan sebagai hidangan penutup suatu pesta. Konon untuk menikmatinya, mi tersebut jangan sampai putus supaya umur Anda tetap panjang.

Berdasarkan kondisi sebelum dikonsumsi, mi dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok yaitu mi basah, mi kering, mi rebus, mi kukus serta mi instan baik dalam kemasan plastik maupun sterofoam (bentuk mangkuk atau cangkir). Khusus untuk Indonesia, kebanyakan yang dikonsumsi adalah jenis mi basah dan mi instan. Sedangkan mi kering (kan-men) merupakan mi yang paling populer di Jepang.

Di Indonesia pun kita mengenal bermacam-macam masakan  mi yang dijajakan mulai dari penjaja keliling (gerobak, sepeda, sepeda motor), warung-warung tenda di pinggir jalan hingga restauran mewah. Masakan mi itu berupa mi baso (bakso), mi pangsit (mi ayam), mi goreng, mi rebus, mi kocok, mi kuah, soto mi. Padahal kalau diperhatikan bahan dasarnya nyaris sama yaitu sama-sama menggunakan mi basah. Seperti mi baso (dikenal dengan bakso) yang terdiri dari mi dan baso (rousu)., cacahan daging sapi giling yang dibentuk bulat-bulat. Biasanya dicampur dengan bihun (mifen) atau tahu (tofu). Terkadang dibubuhi sedikit cuka, garam dan bumbu penyedap. Lalu disiram kuah yang berupa air kaldu daging panas. Bila suka diberikan saus tomat, kecap dan sambal. Mi baso ini lebih dikenal sebagai bakso.

Lain halnya dengan mi pangsit yang dikenal dengan nama mi ayam. Mas Yon, seorang pedagang mi pangsit langganan yang biasa berjualan di daerah Cikini bercerita sambil melayani pelanggan. Untuk mi pangsit, mi-nya dilumuri terigu. Mi basah yang telah berbentuk bulatan  sekepalan tangan dimasukkan ke dalam panci dandang besar berisi kuah kaldu. Sementara itu ia menyiapkan bumbunya di dalam mangkok. Ia masukkan sedikit minyak kaldu, bumbu penyedap, lada, sedikit garam lalu mi yang telah dimasukkan dalam air kaldu mendidih diangkat, ditiriskan dan diletakkan dalam mangkok. Di atasnya ditaburi tumisan daging ayam yang dipotong persegi, irisan daun bawang lalu dibubuhi saus tomat dan sambal bila suka. Kalau tidak ingin kering bisa diberi kuah. Tetapi terkadang kuahnya dipisah. Setelah itu diletakkan beberapa buah pangsit (bianshi). Dari hasil berjualan ini, ia telah memiliki rumah dan tanah di kampungnya di Solo.

Adalagi menu yang berhubungan dengan mi yaitu mi kocok. Saya cenderung menyatakan mi ini mirip dengan soto mi. Hanya cara mengolahnya yang berbeda. Soto mi diolah mirip dengan mi baso tetapi ditambah kol, lemak daging, irisan tomat, dan potongan risoles sementara mi kocok, semua bahan dimasukkan ke dalam satu sendok khusus lalu direndam dalam kuah di panci besar yang berbentuk dandang.

Bertugas di Makassar pun saya tidak terlepas dengan makanan mi. Namun mi di sini cukup unik meskipun bukan makanan tradisional Makassar. Sebuah rumah makan di tengah kota Makassar dipagi dinihari itu, tepatnya di perempatan Jalan Bali dan Lombok, selalu ramai didatangi pengunjung. Nyaris tak pernah kosong.

Di bagian depan rumah makan yang terpampang papan bertuliskan Mi Titi, seorang juru masak sibuk menumis bumbu di penggorengan besar di atas tungku arang. Tungku arang ini menjadi ciri khas dalam mengolah hidangan ini. Bau harum pun menyergap hidung. Berturut-turut ia mencampurkan campuran daging, rempela, dan hati ayam, potongan bakso dan sayuran sawi hijau. Ketika tampak matang, ia masukkan air dari panci besar yang penuh campuran tulang, leher, sayap. Rupanya itu semacam kaldu. Tiap kali air kaldu berkurang, air di panci terus ditambah.

Di samping penggorengan itu ada meja besar. Di atasnya berjejer piring-piring yang berisi mi. Mi yang dimaksud bukan mi basah melainkan mi yang sudah digoreng kering dan garing. Hampir menyerupai kerupuk. Setelah kuah berisi campuran ayam dan sayur matang, juru masak mengentalkan kuah dengan campuran tepung maizena dan kocokan telur ayam. Lalu siap mi di atas piring disiram dengan kuah itu. Mi kering pun siap disantap.

Menurut salah seorang dosen senior Unhas yang juga mahasiswa angkatan pertama Unhas, dr Lies Radjawane , mi kering ini sudah ada sejak tahun 50-an dan ditemukan oleh Angko Cauw, seorang warga keturunan Tionghoa yang telah lama tinggal di Makassar di Jalan Bali. Sedangkan Mi Titi merupakan rumah makan milik putra kedua Angko Cauw yang dibuka tahun 60-an.

Cara menikmati masakan mi pun cukup unik , biasanya dengan supit. Penggunaan supit ini juga diimpor dari negeri asal mi, Cina . Mereka yang tidak mahir akan frustasi dan berjuang dengan susah payah menikmati mi. Tapi mereka bisa juga menggunakan sendok. Seperti yang  digambarkan Pramoedya Ananta Toer bagaimana Minke, tokoh dalam novel Jejak Langkah menikmati mi dengan campuran champignon, jamur merang dan sedikit daging serta kuwah berlemak menggunakan sendok tanpa garpu ketika dijamu oleh seorang gadis Tionghoa, Ang San Mei.

Almarhum Umar Kayam pun memiliki cerita sendiri mengenai mi ini. Di saat tubuhnya diserang flu yang menghilangkan nafsu makannya maka menu bakmi godog (rebus) panas dengan sambal botol menjadi menu sehari-hari. Saat sarapan, makan siang bahkan makan malam hingga dirasa sang lidah dan selera makan kembali normal. Mi rebus dan obat flu seolah menjadi resep mujarab baginya.

Dengan adanya kemajuan teknologi, kita semakin dimudahkan. Begitupula dengan perkembangan mi. Mesin pembuat mi pertama ditemukan oleh T. Masaki di Jepang tahun 1854.. Tahun 50-an mulai dikembangkan Chicken Ramen, ramen merupakan ucapan lain dari lumian, Iomi dalam bahasa Cina untuk mi. Ini merupakan cikal bakal mi instan yang kita kenal sekarang. Tahun 1962 muncullah mi instant baru Saporo Ramen. Ibu saya pada pertengahan tahun 60-an sempat menikmati mi instan tersebut dengan kemasan yang cukup sederhana. Teknologi terus berkembang. Untuk menjaga kesegaran mi dalam jangka waktu lama, ditemukan teknologi pembekuan dan pengeringan tahun 1974. Tahun 70-an dapat dikatakan puncak dari produksi mi instan secara komersial. Hingga kini, ada bermacam-macam merek mi instan serta berbagai macam rasa yang dikombinasikan dengan aneka resep di seluruh Nusantara.

Mi yang dulunya hanya dikenal dalam keadaan basah, dan jika kita ingin menikmatinya harus menunggu penjual atau pergi ke warung saat ini telah dikemas dalam bentuk mi instan. Kita dapat menyajikan dalam waktu yang singkat tanpa mengenal waktu. Baik siang maupun tengah malam sekalipun.

Bahkan mi instan pun saat ini menjadi makanan yang ditunggu-tunggu terutama bagi mereka yang tertimpa musibah kebakaran, kebanjiran maupun dalam konflik. Di layar televisi kita melihat beribu-ribu kardus mi instan siap dikirimkan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak mengherankan mi instan tidak hanya menjadi makanan wajib para anak kost tetapi juga para pengungsi. Setidak-tidaknya mitos bahwa makan mi membuat umur menjadi panjang terbukti. Panjang umurnya…dengan mi.





Menjadi Indo Jangan Setengah-Setengah!

15 04 2007

Menjadi orang Indo bukan berarti menjadi setengah-setengah. Demikian pesan Tjalie Robinson alias Jan Boon, ayah Rogier Boon seorang ilustrator dan desainer grafis yang karyanya dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta, mulai 9 Maret hingga 11 April 2007 lalu.
Menjadi orang Indo justru memikul beban ganda: Oost en West (Timur dan Barat). Budaya campuran merupakan suatu janji dan mengabdi pada masyarakat keturunan Indo yang harus diwujudkan, lanjut Tjalie Robinson.

Rogier Boon dilahirkan di Meester Cornelis (Jatinegara) pada 19 Juni 1936. Pada ulang tahunnya yang ke-17 (19 Juni 1954), ia kembali ke Belanda bersama ayah, ibu tiri dan adik-adik tirinya. Pada masa itu pemerintah Indonesia memang sedang getol-getolnya menasionalisasi semua hal yang berbau Belanda. Bahasa Belanda dilarang padahal para founding father kita menyerap ilmu melalui bahasa itu. Bahkan urusan nama pun dipersoalkan. Maka lenyaplah nama-nama berbau Belanda seperti Mientje, Saartje, Hans, Kees, Bram, Rudy dari Indonesia berganti dengan nama yang lebih “Indonesia”. Menjadi Indo pada masa itu menjadi sesuatu yang nista dan terhina. Mereka diminta untuk memilih, menjadi WNI atau kembali ke Belanda.

Sebelumnya, pada masa pendudukan Jepang orang Indo berada pada posisi sulit. Kalau ternyata dalam tubuh mereka mengalir darah Eropa lebih banyak persentasenya. Habislah mereka, masuk kamp interniran. Oleh karena itu Kantor Arsip Negara yang waktu itu bernama Kobunsjokan dikunjungi orang-orang Indo yang mengetahui asal-usul mereka. Mereka bisa bebas dari tawanan Jepang bila dapat menunjukkan bukti keturunan orang Indonesia. Berapapun persentase darah ‘pribumi’ yang mengendap dalam tubuh seseorang ketika itu sangatlah berharga dan menentukan hidup di dalam atau luar kamp Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang ini dan menjelang Proklamasi Kemerdekaan, kaum Indo mengalami perlakuan yang menyedihkan. Dalam bukunya, Anton Lucas menyebutkan bahwa peristiwa pembunuhan terhadap kaum Indo pada masa awal Republik Indonesia di bulan-bulan akhir di tahun 1945— yang berhubungan dengan Peristiwa Tiga Daerah—sebagai ‘masa-masa kacau’. Kaum Indo mengalami tindak kekerasan paling hebat terutama karena mereka dipandang sebagai orang-orang asing dengan kedudukan ekonomi yang istimewa, serta ada prasangka rasial kuat yang jadi salah satu pemicu berbagai kekacauan tersebut. Selain itu keberadaan mereka dikaitkan dengan keberadaan bangsa penjajah (baca: Belanda).

Menurut Prof. Djoko Soekiman dalam Kebudayaan Indis, pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Sedangkan grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan.

Pertumbuhan budaya baru (Indis) pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.

Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao. Istilah “Indis” ini sering disebut Indo yang tidak hanya terbatas pada percampuran budaya dengan Belanda tetapi dengan budaya lainnya.

Demikian pula Rogier Boon sebagai bagian dari kaum Indo yang berupaya menampilkan “identitas” ke-Indoannya tanpa melupakan akarnya yang bukan berarti mengorek masa lalu. Kalau Jan Boon alias Tjalie Robinson lebih dikenal sebagai “tukang cerita” atau penulis, maka Rogier dikenal sebagai “tukang gambar”. Sama-sama seniman. Maka peribahasa Belanda de appel valt niet ver van de boom (buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya) berlaku untuknya. Bahkan ayah-anak ini pernah bekerja sama. Ketika Tjalie mendirikan majalah bulanan gerilja (1955) yang hanya muncul dua edisi lalu mati, Rogier menjadi ilustratornya. Saat itu ia masih duduk sebagai mahasiswa Kunstnijverheidsschool di Amsterdam (kini Gerrit Rietveld Academie). Rogier pun bersedia membantu sang ayah ketika Tjalie mengambil alih majalah Onze Brug pada 1958 dan mengganti namanya menjadi Tong-Tong (sekarang Moesson). Selain itu Rogier juga menjadi ilustrator bagi buku-buku ayahnya Tjoek (1960), Piekeran van straatslijpers, Ik en Bentiet (1976).

Sehari-hari Rogier dididik dengan berbagai alasan mengapa hal yang bersifat Indo bukanlah masa lalu dan tidak boleh menjadi masa lalu. Karena itu ia selalu berusaha mencari gaya Indo asli yang baru dan modern. Rogier juga membiarkan dirinya terilhami oleh tradisi-tradisi dari berbagai wilayah di Asia dan budaya campuran (mestizo) lainnya. Misalnya budaya Meksiko. Motif dalam rancangannya yang kerap muncul adalah pohon (kehidupan). Rogier menggambarkannya dalam berbagai corak dengan caranya tersendiri. Tanaman digambar secara terpisah dari rimbunan dedaunan kecil. Pohon-pohon besar digambarnya pula seperti pada sampul buku Gordel van Smaragd karya Johan Fabricius.

Akhir tahun 1958 Rogier berkenalan dengan Ellen Derksen yang membantu redaksi Tong-Tong. Setelah berpacaran cukup lama pada tahun 1963 mereka menikah dan mereka dikaruniai seorang putri pada 1964. Hingga mereka memutuskan untuk berpisah tetapi tetap menjalin hubungan baik.

Periode paling produktif dan kreatif Rogier adalah selama Tjalie, ayahnya berada di Amerika Serikat (1962-1965). Ia membuat logo rubrik dan selalu menggunakan tangan bila membuat huruf. Berbagai ilustrasi dibuatnya untuk berbagai artikel dalam majalah Tong-Tong. Tiap artikel dihiasinya dengan ilustrasi detil dan terkadang dengan kartun.
Tahun 1973 Rogier mengadu nasib di Singapura. Di sana ia mendapat pekerjaan sementara. Lalu ia mencoba peruntungannya di kota kelahirannya, Jakarta. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan dan tinggal di Indonesia. Ketika itu ia masih bekerja untuk majalah Tong-Tong, menjadi koresponden. Hampir pada setiap edisi, ia mengirimkan artikel beserta foto-fotonya. Selain menjadi koresponden untuk Tong-Tong, Rogier juga bekerja pada berbagai biro iklan di Indonesia. Antara lain PT Perwarnal Utama dan perwakilan biro iklan Amerika di Indonesia, Ted Bates.

Pada awal 1980-an, Rogier kembali ke Belanda karena alasan kesehatan. Namun, istri dan kedua anaknya tetap memilih tinggal di Indonesia. Keterlibatan Rogier pada semua hal yang ‘berbau’ Indo tetap besar. Ia menghadiri reuni, debat serta mengunjungi Pasar Malam Besar sambil mengobrol dan menikmati jajanan dengan para kenalan dan orang yang belum dikenalnya. Rogier meninggal dunia pada tanggal 26 Januari 1995 pada usia 57 tahun.

Dalam pameran Rogier Boon ini ditampilkan berbagai karyanya. Antara lain cerita bergambar Wim is weg yang merupakan tugas akhirnya di Kunstnijverheidsschool Amsterdam, ilustrasi dan rancangan untuk majalah Tong-Tong, terutama logo kentongan yang menjadi ciri khas majalah tersebut. Yang tidak kalah menarik adalah karya fotografinya. Baginya itu merupakan ‘pertemuan kembali’ dengan Indonesia setelah hampir 20 tahun tidak aktif. Berbagai peristiwa yang jarang dapat dilihat di Belanda diabadikannya. Misalnya musim hujan dan banjir, penjaja jalanan serta pengalaman anak-anak yang juga merupakan bagian dari pengalaman dirinya sebagai “anak Betawi”.

Dibandingkan dengan masa Rogier, memang kaum Indo, terutama anak-anak Indo sekarang lebih beruntung. Kapitalisme yang didukung oleh globalisasi di mana-mana, menyerap wajah-wajah Indo ini dalam pasar dunia iklan atau hiburan. Dunia yang juga pernah digeluti Rogier Boon. Wajah-wajah mereka kini seolah ‘mewakili’ arus utama kecantikan atau ketampanan di masyarakat. Serta menjadi gambaran ideal bagi kesempurnaan fisik. Menurut Nuriana Juliastuti dalam artikelnya “Indis dalam Indonesia masa kini”, fakta mempunyai keturunan keluarga ras campuran menjadi penemuan yang menyenangkan, karena itu artinya tampang “bule” (begitu biasanya orang di Indonesia menamakan seseorang dengan wajah campuran) menjadi pintu masuk yang potensial untuk menjadi artis atau selebritis. Namun, seperti pesan Tjalie Robinson pada Rogier: “Jangan setengah-setengah menjadi Indo!”. Jangan sekedar kulit luarnya tanpa memerhatikan makna sesungguhnya menjadi Indo alias cuma jual tampang.





Indische reisverhalen als historische bron

11 04 2007

De geschiedenis van het toerisme Nederlands-Indië aan het begin van twintigste eeuw is een interesant thema. Maar hoe staat het met het bronnenmateriaal? De officiële archieven van de overheid als primair bron zijn niet voldoende om een diepgaande beschrijving te geven. En deze primaire bron is te formeel en te droog. Het is daarom voor een historicus vereist ook andere bronnen te gebruiken. Om een levendig beeld van het Indische toerisme in de genoemde periode te kunnen reconstrueren en dit  een menselijk gezicht te geven, is het nuttig om gebruik te maken van reisverhalen.

Reisverhalen en andere soortgelijke werken behoren tot de collectieve culturele ervaring van een bepaalde tijd. Zij bevatten niet alleen psychologische en individuele aspecten die met ‘ruimte’ en ‘tijd’ te maken hebben, maar ze vormen ook het culturele product van een bepaalde periode en bevatten daardoor veel relevante informatie (Nugraha 2004:3)  Als voorbeelden worden hier reisverhalen van Justus van Maurik, Augusta de Wit, en Louis Couperus besproken. De keuze hiervan is gepaald door de factor ‘tijd’, namelijk het einde van negentiende eeuw en aan het begin van twintigste eeuw. Terwijl de factor ‘ruimte’ hier zal worden beperkt tot het toerisme op Java. Bekeken zal worden in hoeverre dergelijke bronnen voor de geschiedschrijving bruikbaar zijn.

Reizen naar Java en de bezoekregeling
De uitvinding van de stoomboot en de opening van het Suezkanaal in de negentiende eeuw maakte de reis naar Azië veel sneller. En dat verhoogde het enthousiasme van de Europeanen om naar het Oost te komen. Het maakte het ook aantrekkelijker om een bezoek aan Java te brengen. Dit ondanks het feit dat Augusta de Wit, een Nederlandse reizigster in de inleiding van haar boek Java: Feiten en Fantasieën (1905) had geschreven dat Java de meest onmogelijke plaats was om te bezoeken (Spillane 1994:7). Volgens Arthur Walcott in zijn boek Java and her Neighbours (1914) was er over Java niet veel literatuur te verkrijgen, behalve allerlei verhandelingen over tropische ziektes, uitbarstingen van vulkanen, burgeroorlogen, en geweld onder de inheemse bevolking, zoals ‘amok’ en ‘stille kracht’ (Nugraha 2004:3). Daar kwam nog bij dat het bezoeken van Nederlands-Indië streng gereguleerd werd. Europese bezoekers en reizigers moesten binnen vierentwintig uur na aankomst melden wat de reden was van hun komst naar Indië. Naam, leeftijd, godsdienst, nationaliteit, adres in Indië, beroep, en naam van schip en kapitein, werden geregistreerd. Als men vervolgens een reis tot buiten Buitenzorg – 57 km van Batavia -, wou maken, moest men een ‘toelatingskaart’, een soort paspoort aanvragen. Deze werd door de gouverneur-generaal verstrekt (Koninklijk Besluit 15-09-1871, no.1, in: Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1872, no.38, gewijzigd in Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1881, no.226 en 1890, no.186). De Indische regering beoordeelde dan of een dergelijke toelatingskaart werd verstrekt of niet. Wie een reis verder dan tot Buitenzorg maakte zonder geldige toelatingskaart, kon een boete van 5 tot 100 gulden opgelegd krijgen. Een toelatingskaart was zes maanden geldig en kon verlengd worden (Regeerings Almanak voor Nederlandsch-Indië 1908, deel 1:66).

Natuurlijk gold deze regeling niet voor wie een reis maakte in opdracht van de regering zelf. Uit Nederland afkomstige personen kregen eerder gelegenheid om Nederlands-Indië te bezoeken dan andere Europeanen, op gasten van de overheid na. Hoewel deze regeling tegen het einde van  de negentiende eeuw wel wat flexibeler werd, bleef het toch zo dat iedereen die een reis wou maken met de regering moest samenwerken. De overheid zorgde voor de paarden, schepen, en logementen (Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1816, Besluit no 25; ibid 28-10-1818 en 10-8-1827; zie ook Encyclopaedie van Nederlandsch Indië  (‘s-Gravenhage/Leiden 1919) deel III:581-91.

Reizigers en toeristen

De literair-historicus Fussel maakt in zijn werk Abroad: British Literary Traveling between the War (1980) een onderscheid tussen reizigers en toeristen. Reizigers reizen vaak geheel alleen door een nieuw gebied, en zijn er op uit in allerlei onverwachte situaties terecht te komen. Soms gaat het hier ook om overheidsdienaren die op avontuur uit zijn. Toeristen daarentegen zijn veel passiever en reageren alleen op wat hen wordt aangeboden (Nugraha 2004:12). Omdat in de negentiende eeuw het toerisme op Java nog niet werd bevorderd en naar behoren georganiseerd, kunnen we iedereen die een reis over Java maakte, voordat in 1908 te Batavia de Vereniging Toeristenverkeer werd opgericht (Sunjayadi 2006, te verschijnen), beschouwen als reiziger of bezoeker. De belangstelling van reizigers om Indië te bezoeken, vooral Java, werd opgewekt door informatie die eigenlijk alleen gericht was op het belang van de overheid, en niet zozeer bedoeld was voor reizigers of toeristen.
Reizigers als bijvoorbeeld de Brit Charles Walter Kinloch (1852) en de Amerikaan Eliza R. Scidmore (1912) beklaagden zich over de behandeling door de douane in Tanjung Priok en over de strenge toelatingsregels. Maar dit gold niet voor de reizigers, Justus van Maurik en Augusta de Wit, en een toerist, Louis Couperus, van wie we hier reisverhalen bespreken. Ze bezaten alle drie de Nederlandse nationaliteit en konden daardoor niet verhalen over moeilijkheden om naar Indië te komen. Maar hun reisbeschrijvingen kunnen een goed beeld geven van hoe het was om door Indië te reizen. Zij vormen voor het beschrijven van het toerisme in Indonesië een waardevolle historische bron, die als aanvulling op de officiële overheidsdocumenten gebruikt kan worden.

Justus van Maurik

In zijn boek Indrukken van een totok (1897) beschrijft Justus van Maurik de situatie in Tanjung Priok aan het eind van de negentiende eeuw:

Nauwelijks ligt de boot vast en is de loopplank gelegd, of een menigte menschen komt, als een troep halfwilden ons overvallend, aan boord. Hotel-mandoers met adreskaarten, eigenaars van commensalenhuizen, boot en expeditie-agenten, jongens die hun toewan of njonja komen afhalen, heeren en dames om vrienden en familie te ontvangen, een troep Chineezen, die een hunner grootwaardigheidsbekleeders komen begroeten
(p.85-6).

Tanjung Priok was een van belangrijkste toegangen tot Java, naast de haven van Surabaja. Bij aankomst was het een drukte van belang van personen die hotels als Hotel des Indes, Grand Hotel Java, Hotel Wisse, of Hotel Ort aanboden. Er was een grote concurentie om de gasten te trekken die voor de eerste keer in Indië aankwamen.
De tocht van het station Tanjung Priok tot Weltevreden trok de aandacht van Van Maurik. Allerlei interessante dingen die niet in de overheidsarchieven te vinden zijn, worden door hem beschreven. Zoals zijn culinaire avonturen. Hij beschrijft een wandelend restaurant van een Chinees met een draagstok die lekkere maaltijden verkoopt: kimlo of sop tjina (Chinese soep) die met een blauw, porceleinen lepeltje in een kommetje werd opgediend. Voor een paar centen konden de klanten deze soep gehurkt opeten (p.110). In de Chinese wijk kon men allerlei kleine waroengs aantreffen waar van alles te krijgen was: rijst, gedroogde en gebakken vis, gedroogd vlees (dendeng), sambal, koffie, vruchten, suikerwerk (van Chinees fabrikant), koekjes, sigaretten, strootjes, kokos, Spaanse peper, verschillende soorten bananen, en flessen met gegiste palmwijn (tuak). Van Maurik schenkt ook aandacht aan allerlei soorten vruchtensiroop in flessen. Volgens hem was de Chinees een matador in het namaken van Europese dranken. Van Maurik schrijft: ‘evenwel treft men ook warongs aan, die binnenin een eetkamer hebben, bestaande uit een donkere ruimte, besmookt en berookt…’ (p.112). Een ander Chinees gerecht dat hij lekker vond was bami, die hij in een  roemah-makan in Glodok at: ‘…een soort van dunne macaroni, gekruid met allerlei specerijen, bereid met bouillon, vermengd met champignons, kippenlever, Spaansche peper, gehakte uien, stukjes varkenvleesch- en zelfs met kikkerbilletjes naar me mij verzekerde.’ (p.114)
Van Maurik beschrijft ook de hotels in Indië. Als hij aan die hotels dacht, herinnerde hij zich de smaak van overheerlijke koffie, lekkere pisang, de onvergelijkelijke geuren van ananas en trassi (p.155). In verband met deze hotels gaf hij het advies aan de gasten om vooral de mandoer te vriend te houden, want: ‘De mandoer in een Indisch hotel is een opzichter over de anderen, oberkellner en bottelier tegelijk,en onder de bedienden de meest beschaafde is, derhalve ook het best weet wat een fooi beteekent.’ (p.160) Hij had ooit gehoord dat de meeste hotelbedienden in Indië niet zo gewend aan fooien waren. Hij adviseert om alleen fooien te geven als je lang in een hotel bent geweest. Als je ze een kwartje geeft, zijn ze heel dankbaar:
dat is hier in Indie plezierig, de bedienden zijn nog niet zoo verwend. Fooien geef je alleen als je lang in een hotel bent geweest, bij je vertrek en voor een kwartje zijn ze hier dankbaarder dan voor een rijksdaalder in Europa (p.160)
Er was een verschil tussen de hotelbedienden in Batavia of Soerabaja en die in de binnenlanden. De hotelbedienden in de binnenlanden waren meer gewillig dan die in de grotere steden. Hoe groter de plaats, hoe meer contact met de westersche beschaving, hoe lastiger ze worden. Van Maurik schrijft: ‘vroeger zaten ze op hun hurken, maar als ze lang met vreemdelingen verkeeren gaan ze op hun stoel zitten, als ze kunnen.’ (p.161)

Augusta de Wit

Een dergelijke ervaring had ook Augusta de Wit, journaliste van de Singapore Strait Times, toen ze Java aan het begin van twintigste eeuw bezocht. In haar reisverslag Java: Feiten en Fantasieën (1905) verhaalt ze hoe ze aankwam in Tandjoeng Priok en hoe overal:
bedienden [verschenen] met koffers en passagiers in spiksplinternieuwe kleeren. Want we naderden al meer en meer; en weldra lag met een diepen zucht van verlichting, de boot stil, en we betraden de kade van Tandjong Priok.De trein is tenslotte in beweging gekomen en snelt nu door een wild triestig landschap, half bosch, half moerasland. (p.9)

Nadat ze de trein van station Tanjung Priok naar Batavia had genomen, vervolgde ze haar reis met paard en wagen (sado) naar Rijswijk -nu Jl. Veteran (p.11).  Net als andere Europese reisverhaalschrijvers beschrijft ook zij een rijsttafel : ‘Dit is alles echter is slechts eene voorbereiding tot dat grootste aller mysteries, dat om twaalf uur gevierd wordt: – de rijsttafel.’(p.18) Er zijn twee dingen die haar aandacht trokken. Ten eerste werd de rijsttafel niet in een eetkamer geserveerd , maar op de achtergalerij van het hotel (p.18). Ten tweede beschrijft zij hoe de inheemse bedienden de rijsttafel serveerden. Zij vond vooral hun kleding interessant. Ze waren blootsvoets en droegen half Europese kleding die met een sarong en een hoofddoek werd gecombineerd: ‘de spijzen worden rondgediend door onhoorbaar, op blote voeten heen en weer bewegende inlandsche jongens, half indisch, half europeesch gekleed.’ (p.18).
Natuurlijk had ze ook aandacht voor de verschillende gerechten van de rijsttafel zelf. De hoofdgerechten bestonden uit rijst en kip. En ook was er gerookt vlees, vis met verschillende ingrediënten, ei, gebakken banaan, en sambal met kippenlever. Alles opgediend met Spaanse peper (p.18-19). Een onvergetelijke ervaring voor haar was de eerste keer dat ze de sambal proefde. Haar lippen werden heet. Haar keel stond in brand, zodat haar ogen traanden:

Ik heb geen woorden om te beschrijven wat er van kwam. Laat mij slechts zeggen, dat in minder tijd dan ik nu noodig heb om het te vertellen, ik onuitsprekkelijk ellendig was geworden; mijne lippen schrijnden onder de vurige aanraking van de sambals, mijne keel brandde te erger door haastigen slok water.(p.20)

Gelukkig vond een van de gasten haar zielig en gaf haar het advies om een stukje zout op haar tong te leggen. Na een paar minuten was het ergste voorbij. Ze was dankbaar dat ze nog leefde en ze bezwoer dat ze nooit meer rijsttafel zou eten. Maar dat kon ze later toch niet nalaten (p.20). Nadat ze allerlei gerechten had geprobeerd die haar lieten zweten en tranen, was het tijd voor het toetje: ananas, mangistan, ramboetan en doekoe. Daarna gingen de gasten terug naar hun kamer voor een siesta tot vier uur ’s middags (p.24).
Het is duidelijk dat we de tip voor de nieuwkomers in Indië om zout op de tong te leggen na het eten van te hete sambal, niet in de officiele archieven zullen aantreffen.
Augusta de Wit bekeek ook hoe de Javanen pas ontbeten nadat ze eerst in de rivier (kali) gebaad hadden: ‘Na het bad gaat de Javanen ontbijten en ook dit gebeurt in het openbaar.’(p.113).  Ze verwees naar Tanah Abang en het Koningsplein (nu Jl Medan Merdeka, Monas), de buurt waar de inheemse mensen woonden. Daar stonden ook de waroengs die allerlei gerechten verkochten. Maar er waren ook nog kleinere en handiger waroengs, die langs het kanaal, op de hoek van de straat, in het station of bij een sado-standplaats stonden:

Men vindt verscheiden, dergelijke warongs in de buurt van Tanah-Abang en het Koningsplein, en natuurlijk ook in de inlandsche wijken. Maar de kleinere, draagbare, vindt men overal, aan den kant van de kali, aan de spoorwegstations, bij de standplaatsen der sadoos, langs de grachten, op de hoeken van de straten, en ze schijnen goede zaken te doen.(p.114)

Vroeg in de morgen bracht men hun etenswaren met een draagstok daarheen. Borden, glazen en flessen werden zo gerangschikt dat ze de aandacht van de mensen trokken. Ze gebruikten een anglo, een komfoor van klei, om op te koken. Er was iemand die rijst verkocht, gezoute vis met sambal, groene koekjes met witte geraspte kokos en verschillende koekjes die een zoete smaak hadden met diverse kleuren – orange, rood, roze en donker bruin -, en die werden geserveerd op bananenblad:

Die staan al gereed in het draagbare buffet –zorgzame vrouw van den verkooper ’s voor dag en dauw opgestaan om ze klaar te maken – en nu worden ze uitgestald op reepen pisangblad, die dienst doen als borden en schotels; groene en witte balletjes rijstmeel, met wat geraspte kokosnoot er overheen gestrooid, oranje maiskoekjes, trillende rose geleien, en reepen van een taai donkerbruin goedje.(p.116)

Volgens De Wit hielden de bewoners veel van dergelijke zoete koekjes. Zittend op een korte houten bank aten ze die veelkleurige koekjes en dronken er siroop bij, zonder bang te zijn dat ze later buikpijn zouden krijgen:

Ik heb dikwijls groepjes volwassen mannen en vrouwen gade geslagen, terwijl ze op het lage bankje  voor een warong gezeten, zich met een volmaakt kinderlijk genot te goed deden aan kwee-kwee, koekjes en suikergoed, of over een stalletje gebogen, ernstig de bekoorlijkheden vergeleken van witte, rose en gele koekjes; aarzelende, den verkooper raadpelegend, en tenslotte het moeilijke vraagstuk oplossen door van alles een beetje te proeven.(p.117)

Louis Couperus
Volgens Couperus bood Tandjong Priok geen fraaie aanblik, maar gelukkig waren daar de vele gezichten van verwanten en vrienden die de passagiers kwamen afhalen. Louis Couperus en zijn vrouw logeerden in Hotel des Indes in Weltevreden

Tandjong Priok. Geen schoonheid van aankomst, maar lieve gezichten van verwanten en vrienden, die ons komen afhalen, trots de brandende zon. Ze namen ons mee en we waren spoedig in Batavia in het Hotel des Indes, in Weltevreden. (p.123).

Hij  was als correspondent verbonden aan de Haagsche Post. Eénenzeventig brieven verschenen in de nummers van 17 december 1921 tot en met 5 mei 1923, en werden later door hem gebundeld in Oostwaarts (1992, eerste druk 1924). Het doel van zijn reis naar Indië was ‘niet om economische toestanden te bestuderen, niet [...] om een beeld van onze Nederlandsch-Indische kolonisatie te geven [...], maar enkel om eenige luchtige toeriste-brieven te schrijven’ (p.281)
Net als de andere Europesche reizigers verhaalt ook Couperus hoe de bekende rijsttafel bij wijze van Europese lunch in het hotel werd opgediend. Couperus adviseert om niet te veel sambal oelek te nemen, want deze is te heet voor Europeanen. Die sambal houd je op de rand van het bord: ‘De verschillende, soms zeer gepimenteerde sambals neme men in kleine hoevelheid –pas op voor de sambaloelek, louter Spaansche peper!-en houde ze op den rand van uw bord vooral goed uit elkaar’ (p.129). De rijsttafel werd gegeten met lepel en vork. Bij elke hap rijst werd wat kip, vlees of vis genomen, vergezeld van wat sambal. Elke hap was op die manier weer anders van smaak:

Bij elke hap rijst –ge eet uw rijst met lepel en vork –kiest ge iets van kip, vleesch of visch, begeleid door een der sambals. Iedere hap rijst is een nieuwe combinatie. Ge wisselt ze af, die combinaties. Ge wisselt ze af, uw hapjes rijst, waardoor, als ge goed eet, elk hapje anders smaakt. (p.129).

Uit de gidsen voor toeristen van het begin van de twintigste eeuw blijkt dat het voornaamste doel steeds is om van het prachtige landschap in de bergachtige gebieden te genieten. Dit wordt ook door Couperus beschreven. Zo beschrijft hij zijn bezoek aan de Kemojang krater (Kawa-Kemodjan) in West-Java. Ook het bewonderen van de zonsopgang was een belangrijke toeristische attractie. Omdat er niet alle gebieden per auto bereikbaar zijn, gebruiken ze tandoe:

Vroeg in de morgen vertrok hij met de auto naar Ciparai, langs de bergen Papandayan, Guntur en Cikorai. Daarna werd de tocht vervolgd per tandoe (draagstoel) die al klaar stond vanwege het ontoegankelijke gebied. Een auto kon er niet rijden. Die tandoe werd overdekt met bamboe en aan twee sterke bamboestokken meegetorst. Aan beide zijde werd hij door vier zwetende en zwoegende koeli’s meegedragen onder toezicht van een mandoer (p.164).

Ze konden niet zomaar stoppen om naar de zonsopgang te kijken. Ze moesten doorgaan. En zo was het ook als ze iets wilden eten. De mandoer had alles goed geregeld. Hij kocht lempers voor een paar centen. En lemper is gekookte rijst in een omhulsel van pisangblad in vorm van een dikke vierkante brief. Het lijkt op een postpakketje: ‘Vroolijk blijven zij, en hongerig, geloof ik, zijn zij of doen zijn alsof zij zijn om aan een warong hier, een draagkeukentje daar, vlug den mandoer wat ‘lemper’ te doen koopen voor enkele centen.’ (p.165). Al lopende opende de mandoer zo’n postpakketje en gaf elke koeli vlug een lemper. Met een hand pakte een koeli vlug die lemper aan en at hem snel op, ‘en de mandoer die lastloos ter zijde loopt, geeft iedereen koelie vlug een lemperpakje, dat hij, vlug ook, al torsende, pakt met één hand en naar binnen werkt’ (p.165). Als ze moe waren en ze wilden de bamboestokken van de linker- naar de rechterschouder verplaatsen of andersom, dan riepen de koeli’s om beurten: ‘Balek!’, dat betekent ‘andersom’. De bamboestok werd dan op de andere schouder gelegd. Op die manier konden ze gewoon doorlopen zonder te stoppen

“Balek!” roepen de koelies om beurten; dat beteekent: “draai om!” En zij meenen er mee, dat zij de bamboe stokken van linker-over rechterschouder willen leggen of andersom. Een schok, een hevige schudding, en de bamboe’s zijn op frissche schouders verlegd. Na een poosje roept weer en schoudermoede koelie: “Balek!” en met schudding en schok wordt mijn zwaarte weer naar het eerste zwaartepunt overgebracht.’ (p.165-166)

Indische reisverhalen als historische bron
Indische reisverhalen worden niet veel gebruikt als historische bron, want ze behoren tot het genre van de subjectieve fictie. Maar we moeten goed beseffen dat geschiedenis altijd subjectief is en dat geschiedschrijving probeert om iets uit het verleden te verklaren of beschrijven door deze zo nauwkeurig mogelijk te reconstruëren. Het resultaat daarvan is niet de geschiedenis zelf, maar een interpretatie daarvan.
Bij het gebruiken van reisverhalen, moeten we ons bewust zijn dat deze altijd beïnvloed zijn door de achtergrond van de schrijver: wie is de schrijver (leeftijd, beroep, geslacht, ras). Wat was de motivatie om een reisverhaal te schrijven, en in hoeverre is men met hun object – hier: Java/Indië – verbonden? De historicus moet zich hier bij het lezen van dergelijke reisverhalen goed van bewust zijn. Reisverhalen moeten immers altijd begrepen worden als een vorm van representatie (Nugraha 2004:3).  Om reisverhalen te analyseren, kunnen we de tekstbenadering van Foucoult (1976) gebruiken.  En om de koloniale representatie te begrijpen, kunnen we aansluiten bij de benadering van het oriëntalisme van Said (1991).
Als voorbeeld werden hier de reisverhalen van drie reizigers besproken worden. Justus van Maurik (1846-1904) was een sigarenhandelaar uit Amsterdam, Augusta de Wit (1864-1939), in de tijd dat ze Java bezocht, journaliste voor de Singapore Strait Times en ook  lerares Engels en Duits in Batavia (1895-1896), terwijl Louis Couperus (1863-1923) als correspondent verbonden was aan de Haagsche Post.  Augusta de Wit werd geboren in Sibolga, Noord-Sumatra, maar verhuisde met haar familie naar Europa toen ze tien jaar oud was (Nieuwenhuys 1972:323).  Justus van Maurik en Louis Couperus werden in Nederland geboren. Hoewel Louis Couperus zelf niet in Indië geboren werd, had zijn hele familie wel een langdurige Indische achtergrond. Een aantal familieleden had in Indië een bestuursfunctie gehad. Toen hij negen jaar oud was, verhuisden zijn ouders naar Batavia, waar hij vijf jaar woonde.
Als we de indrukken van deze schrijvers kritisch analyseren, dan kunnen we deze Indische reisverhalen als historische bron gebruiken.

Slot
Elke historicus is zich ervan bewust dat hij de bronnen waarmee hij in aanraking komt niet zonder meer kan accepteren. Deze moeten aan een nauwgezette kritiek worden onderworpen voordat ze als historisch materiaal kunnen dienen. En elke bron kan niet worden losgemaakt uit de cultuur waaraan hij zijn ontstaan te danken heeft. Als de onderzoeker de cultuur van de betreffende periode niet kent, zullen de gegevens uit de bronnen hem niet veel zeggen (Lapian 1989:457). Dat geldt ook als we deze Indische reisverhalen als historische bron willen gebruiken.

Uit: Congres Vijfendertig Jaar Studie Nederlands in Indonesië, 24-25 September 2005 PSJ-UI Depok





Tourism during the Colonial Era in Indonesia

6 04 2007

Not many people are aware that actually modern tourism in Indonesia already commenced during the colonial era in the 20th century. The exact timing is unknown since data concerning this matter is still limited. At that time of course the name “Indonesia” was yet unknown because it was still named the Nederlandsch-Indie or the Dutch Indies.

This issue becomes increasingly interesting because in the previous periods (the 19th century) the Dutch Indies government in fact did not support tourism to the Dutch Indies. There were rules prohibiting foreigners to come to the Dutch Indies. These rules already existed since the VOC period during the 18th century and were further strengthened during the liberal era in the year 1872. Foreign visitors had to obtain permits, toelatingskaart from the Governor General if they wanted to go on journeys to several large towns on Java, specifically those in the hinterlands (binnenlanden).

The Dutch Indies authorities apparently were unable to continue putting up obstacles against incoming visitors. This was added by international media stories concerning the Dutch Indies in the 19th century which were about news concerning epidemics (cholera, bubonic plague), volcano eruptions, ethnic wars and violence among original inhabitants (incites of violence, black magic). However all this in fact brought about the curiosity of those with surplus of funds. Mainly those in Europe and Northern America. Journeys to Eastern countries also become faster and easier after the opening of the Suez Channel in 1869.

In year 1908, the same year as the establishment of Boedi Oetomo, a  pro-nationalist Indonesian movement, the Dutch Indies authorities established the Vereniging Toeristenverkeer (VTV) in Weltevreden, Batavia. This semi official body constituted an association of state and private enterprises handling the matter of tourism in the Dutch Indies. This body was under the supervision of J.B. van Heutsz, the Governor General of the Dutch Indies at that time. We know the name van Heutsz as the General who once overpowered Aceh in the beginning of the 20th century.

Automatically this tourism board became a ‘government board’ that controlled all matters pertaining to tourism in the Dutch Indies. This board also obtained subsidy from the colonial government. It is recorded that in 1908 it acquired aid of 25,000 guilders, in 1908 20,000 guilders and finally in 1910 it was decided that it shall receive annual aid of 10,000 guilders. Quite a large amount for those days.

The tourism board with office at Jl.Noordwijk 36 (currently Jl.Ir.H.Juanda) also received the support of several circles. Such as hotel owners, restaurant owners, shop owners, banks, private railway companies and seafaring shipping agents. Between the years 1910-1912 this tourism board had an office at Rijswijk 11 and Rijswijk 38 (currently Jl. Veteran).

In 1922, the board had a total of 60 members. The caretakers of this board comprised senior officials of the state railway company (Staatspoorwegen), banking entrepreneurs, hotel and shop owners as well as officials from the KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) – the state shipping company. They also gave their contributions to the VTV. Until the 1940s, shipping companies constituted the main contributors.

Historian Robert Cribb assumes that the change why did the colonial government became the main sponsor in promoting tourism in the Dutch Indies related Ethical Politics in 1901. The policy of Ethical Politics emphasizes on the colonial government role to uphold the degree of the local inhabitants. However programs towards the “success” of such Ethical Politics appeared to need quite substantial financing and appeared that modern tourism constituted a new and important source of income for the colonial government.

Previously, the Dutch Indies government had also prepared several other supporting facilities such as roads, railways and also opened up channels for sea vessels. Of course all this was initially intended for economy/trading, not specifically for tourism. For example the construction of the railway was proposed by the plantation entrepreneurs. Thereafter, since the 1920s an air flight route was opened to the Dutch Indies by the Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (state airline company). This airline company in the Dutch Indies was established through the intervention of former VTV chairman, D.A. Delprat and KLM director, A. Plesman.

Brochures, posters and books on tourism published by VTV were disseminated overseas. The targets were Europeans (Dutch, French, English), North America and Australia. The tourism area offered up for the first time was Java because Java was considered secure and politically under control. Meanwhile objects promoted were volcanos and their craters, lakes, hot water baths and the beautiful scenery in Java as well as its cultural inheritances such as the Borobudur and Prambanan temples. Several new cities designed by the colonial government in Java were also established as tourism objects, such as Bandung, Candi (Semarang) and Malang. The colonial government created a kind of ‘Tropical Holland’ or ‘Het Paradijs der Tropen’ in the Dutch Indies.

To attract prospective tourists, especially since during that time they were more interested in vacationing in tourism spots in Europe, the colonial government then created names for cities in Java obtained in tourism guide books, such as Zwitserland van Java for Garut, Parijs van Java for Bandung, Venetie van Java for Batavia, Gibraltar van Java for Semarang.

Approaching the 1930s, Java was no longer considered safe due to increasingly radical national movements. Additionally the original Javanese culture of Hindhu and Buddhist teachings in Java which according to the colonial government was a tourist attraction in the Dutch Indies was increasingly disappearing. The colonial government then looked at Bali to become an alternative tourist destination and was expected to replace the lost Java. Thus Bali was named “the lost paradise”. In spite of this in the subsequent years Java still remained the destination of foreign tourists even until now.

Tourism promotion in the 30s was also unbeatable in intensity. After an initial deterioration due to malaise that swept the world, this time Bali became the spearhead of the promotion. Artists such as Walter Spies, Miguel Covarrubias, Rudolf Bonnet and anthropologists such as Jane Belo and Margaret Mead also indirectly promoted Bali as an island worth visiting. Bali was said to be an island of paradise. Tourism advertisements in the 30s mentioned that one should not die without seeing the Island of Bali first. Even a silent movie of Charlie Chaplin showed that he visited this island.
Bali’s fame was established as a theme during the international colonial exhibition in Paris in 1931. The entrance to the Dutch Indies pavilion was a duplicate of the entrance door to the Camenggon temple in Sukawati, South Bali with a height of 50 meters complete with the granite carvings. Not only that, fifty dancers and Bali gamelan musical instrument players were brought in to add to the festivities of the exhibition. As a result, flows of incoming tourists arrived in Bali.

Other than Bali, the Dutch Indies government also tried to offer up other areas such as Sumatra (Brastagi, Danau Toba, Fort de Kock), Sulawesi (Toraja), Maluku Islands. Definitely all this could not be separated from the factors of facilities and security. The government also did not want to take any risks of acquiring just any kind of facility with no security because this could ‘damage’ their promotions.

Since the establishment of VTV until the 1940s, the itineraries offered almost never changed. From the tourism guidebooks from 1910 and 1940 the routes and objects offered, for example started from Batavia, Priangan, Vorstenlanden(Yogya, Solo), Surabaya, Bromo Mountains and then Bali. There also were several itineraries from the 30s that offered trips to Sumatra, Celebes (Sulawesi), Borneo (Kalimantan), Maluku Isles.
Then what about the local tourists alias the indigenous? Were they only an audience? Indeed tourism appeared to be only for the upper classes. Previously, the local royalty in the Dutch Indies had hobbies in hunting, vacation in health resorts and resting in their rest houses near the mountains. These rest houses were even used by tourists as places to stop by or sleep over.

In the meantime after the entrance of foreign influence, the neo royalty (royalty class not through inheritance) who acquired modern education in large cities in Java followed such vacationing habits. This neo royalty such as Soekarno, M. Hatta, Sutan Sjahrir, M. Yamin went for recreation to tourism objects regulated by the colonial government and which were actually not for them. Their experiences in these recreational activities are contained in their memoirs, autobiographies or biographies. It was during such journeys that their experiences in finding their Indonesian nationality were formed. What is interesting is that the images of this neo royalty are formed from pictures and photographs in their study books which used photographs promoting tourism in the Dutch Hindies. For example a picture of railway tracks crossing the Priangan mountains, photos of the magnificent Borobudur temple.

Not only that, tourism in the colonial era also opened up new professions in this sector. For example, overseers, hotel employees, tour guides or entertainers (dances, music). An interesting fact is the ‘tourist’ concept among the population in Java until now. They name all tourists, mainly those with Caucasian skin as ‘londo (dutch) tourists’. No matter if they originate from America, England, France or Germany.

Published in INA MAGAZINE Volume XVII Third Issue October 2006

I would like to thank you to Iskandar P. Nugraha (UNSW) for the discussion and the sources of this article





Membingkai Kolonialisme Belanda di Seberang Lautan

5 04 2007

Judul : Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-
1942
Judul asli : Dutch Culture Overseas: Colonial Practice in the Netherlands Indies
1900- 1942
Penulis : Frances Gouda
Penerjemah : Jugiarie Soegiarto dan Suma Riella Rusdianti
Penerbit : Serambi, Februari 2007
Tebal : 523 halaman

“Maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”. Inilah tekad sebuah bangsa yang menyatakan kemerdekaannya dan mencantumkan pernyataan ini dalam pembukaan undang-undangnya. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Lalu bagaimana kolonialisme? Apakah kolonialisme merupakan salah satu kewajiban (atau hak) bangsa kulit putih yang menjadi beban (white man burdens) untuk “memperadabkan” masyarakat lain yang dianggap belum beradab?

Bagaimana pun penjajahan menimbulkan goresan, entah kepedihan ataupun kenangan indah. Baik bagi yang menjajah, maupun yang dijajah. Dalam konteks itu, buku Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942 karya Frances Gouda turut membingkainya.

Secara umum, buku yang terdiri dari enam bab ini, membahas kebudayaan kolonial Belanda sebagai suatu fenomena yang memiliki beragam segi dan pluralistik. Penulis memperlihatkan kebudayaan kolonial Belanda yang berbeda dengan para negeri kolonialis lainnya, bahkan dengan negeri asalnya. Hal ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengapa sebuah bangsa kecil (Belanda) dan tak begitu penting secara politik di Eropa mampu mendominasi peradaban-peradaban tua seperti di Jawa dan Bali.

Gouda juga memaparkan cara-cara yang digunakan Belanda dalam ‘menjajah’ serta gaya menjajahnya yang unik untuk ditunjukkan kepada dunia luar. Secara khusus, ditampilkan juga cara pemerintah Hindia Belanda menampilkan Hindia Belanda di pameran kolonial internasional di Paris 1931. Namun, dalam buku ini kita hanya akan sedikit menjumpai kebijakan (ekonomi atau politik) pemerintah kolonial Hindia Belanda. Selebihnya, praktik kolonial yang dimaksud adalah budaya dan mental yang hingga kini masih kita rasakan.

Dengan menggunakan sumber primer berupa novel, roman, buku panduan perjalanan, buku pedoman, surat kabar, laporan pemerintah, korespondensi pemerintah dan surat-surat pribadi, Gouda menggambarkan praktik kolonial Belanda di Hindia. Selain sumber tertulis, Frances Gouda yang meraih gelar Ph.D sejarah di Universitas Washington pada 1980, juga mewawancarai orang-orang Belanda di Belanda yang pernah tinggal di Hindia pada tahun 30-an. Mereka adalah orang-orang yang mengalami masa sulit karena pengangguran di Eropa dan memerlukan penghargaan diri atas profesi mereka dengan pindah ke “tanah surga”. Baca entri selengkapnya »





Sarung

3 04 2007

Menurut cerita, bangsa yang mengenakan sarung dianggap bangsa yang lamban dan cenderung malas. Masalahnya, sarung tersebut membuat sang pemakai menjadi sulit bergerak dengan cepat serta tidak bebas. Coba bayangkan, dengan lilitan kain yang membelit dari bawah pusar kita hingga ke mata kaki, apa sanggup kita berlari kencang bila dikejar anjing (gila). Tapi toh, cerita itu belum tentu sepenuhnya benar.

Bicara bebas, bukankah dengan mengenakan sarung juga bisa lebih bebas. Stop. Anda jangan yang berpikir yang bukan-bukan dulu. Bebas di sini berkaitan dengan sifat multifungsi serta kapan menggunakan sarung itu. Sarung dapat digunakan dalam berbagai acara, baik formal dan non formal. Mulai dijadikan pakaian kondangan, akad nikah (tidak selalu), untuk shalat, selimut penahan nyamuk di malam hari, bisa dijadikan tas serbaguna jika keadaan darurat ( ini sering dimanfaatkan oleh para maling konvensional yang juga menjadikan sarung sebagai topeng mereka), dijadikan kamar mandi darurat di kali sewaktu pergi kemping. Bahkan, para jawara di masa lalu juga menjadikan sarung sebagai asesoris sekaligu senjata yang setajam golok.

Nah, bicara lamban para pemakai sarung di Bali punya kiat sendiri yang terbukti jitu. Kain sarung tersebut mereka kenakan seperti mengenakan popok bayi. Bagian bawah sisi belakang sarung mereka angkat ke depan lalu digulung seperti biasa. Alhasil mereka bebas beraktivitas dan tidak lamban. Kalaupun ada yang lamban, itu karena mereka dasarnya malas saja. Bukan karena memakai sarung.

Sementara itu teman-teman di kalangan pesantren pun kerapkali disebut kaum sarungan. Alasannya, mereka biasa mengenakan sarung dalam setiap aktivitasnya. Tentunya, sekarang ini sudah berubah dan tidak semua santri di pesantren mengenakan sarung.
Apa memang sarung hanya dikenal dalam budaya Asia saja? Sepertinya memang begitu karena setahu saya sarung tidak dikenal di Eropa. Kecuali sarung kotak-kotak setinggi lutut milik orang-orang Skotlandia yang disebut kilt. Kalau Anda pernah menyaksikan film Brave Heart, di situ Anda bisa melihat Mel Gibson dengan ‘sarung’ Skotlandianya. Beberapa tahun silam, Michael Keadis, vokalis grup Red Hot Chilli Pepper, sewaktu membacakan salah satu nominasi MTV Award dengan cueknya mengenakan kain sejenis sarung berwarna gelap tanpa mengenakan pakaian alias telanjang dada. Padahal di negara kita yang puanas ini, memakai sarung tanpa busana sambil ote-ote adalah hal yang biasa. Apalagi setelah makan siang. Nikmatnya, gak tergantikan.

Ketika harus ‘nyantri’ ke Eropa saya sempat was-was tidak bisa mengenakan asesoris santai kegemaran saya ini. Rupanya rasa khawatir saya tidak terbukti. Teman-teman di sana yang di tanah air memang santri betulan rupanya tak melepaskan kebiasaan mereka sebagai pemakai sarung. Ya, tentunya mereka pakai di waktu santai karena tidak mungkin lah kalau lagi ‘nyantri’ dengan ‘kyai’ professor mereka mengenakan sarung. Sarung beraneka motif, ada yang kotak-kotak, garis-garis halus hingga batik ini akhirnya menjadi dress code tak resmi kami menjelang musim dingin. Tapi, tentunya tidak bisa sambil ote-ote seperti di tanah air. Lha, apa mau masuk angin londo?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.