Batas

4 03 2008

Bangsa Indonesia rupanya tidak pernah lepas dari persoalan “batas”. Baik itu berupa “perbatasan” maupun “pembatasan”.

Coba kita ingat lagi sengketa perbatasan Ambalat dengan Malaysia tiga tahun silam. Lalu baru-baru ini beredar informasi WNI yang direkrut menjadi Askar Wataniah, tentara cadangan Malaysia di wilayah perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan.

Masalah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan berakar dari masa lalu. Perbatasan Kalimantan merupakan kawasan konflik pada masa Soekarno yang melancarkan konfrontasi “Ganjang Malaysia”. Ribuan pasukan reguler dan sukarelawan dikerahnya untuk mendukung politik konfrontasi itu. Masalah tersebut menyisakan persoalan historis dan berakibat hingga kini.

Demikian pula kontroversi Gugusan Pulau Pasir (Ashmore Reef) di selatan Nusa Tenggara Timur. Masyarakat NTT dan sebuah LSM, Ocean Watch justru mempertanyakan dan menolak tegas klaim Australia atas pulau itu karena menganggap pulau itu bagian dari Indonesia. Sayangnya, Departemen Luar Negeri merasa pulau itu sudah menjadi milik Australia. Pada sisi lain Australia sering berbenturan kepentingan politik pertahanan keamanan dengan Indonesia yang berbatasan maritim dengan wilayah selatan Pulau Jawa.

Jangan pula lupa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia karena kelengahan kita sendiri. Oleh karena itu kita semestinya dapat mengambil pelajaran. Persoalan “perbatasan” berikutnya pun menanti. Misalnya kasus Pulau Nipah di Selat Malaka yang nyaris tenggelam. Jika tenggelam maka kemungkinan konflik dengan Singapura akan terlecut berkaitan dengan perubahan garis pantai di Singapura yang mereklamasi terus pantainya.

Masih ada lagi potensi konflik perbatasan lainnya, seperti Pulau Sekatung di Kepulauan Natuna dengan Vietnam, Pulau Marore, Miangas (Sulawesi Utara) dengan Filipina, Pulau Fani, Fanildo, Bras di Papua berbatasan dengan Republik Palau, Pulau Asutubun (Maluku) dengan Timor Leste.

Jika masalah “perbatasan” ini berhubungan dengan pihak asing, maka masalah “pembatasan” berhubungan dengan pihak kita sendiri, pemerintah kita. Khususnya yang berhubungan dengan BBM dan energi.

Kita harus bersyukur Presiden SBY meminta pemerintah untuk tidak terburu-buru dan mengharuskan kebijakan penurunan subsidi segera dilaksanakan. Jika terburu-buru dan segera dilaksanakan, maka masyarakat akan mendapatkan “kartu-kartu” dari pemerintah. Namun, presiden menegaskan pemerintah tetap harus siap terhadap kebijakan tersebut.

Tentunya kartu yang diberikan bukan sembarang kartu, seperti kartu ucapan lebaran atau tahun baru. Bukan juga kartu remi atau domino. Bahkan juga bukan kartu kuning atau kartu merah seperti dalam permainan sepak bola. Kartu yang diberikan adalah kartu pintar (smart card) dan kartu kendali.

Awalnya saya cukup bingung dengan kedua kartu tersebut. Saya sempat berpikir apa kartu pintar itu seperti buku pintar yang memuat banyak hal. Dengan kata lain mempunyai banyak fungsi. Selintas pikiran iseng saya menjawab mungkin kartu pintar itu telah minum jamu tertentu sehingga jadi pintar. Saya pun sempat berpikir kedua kartu itu sama karena banyak tulisan di media yang menulis smart card (kartu kendali).

Rupanya kedua kartu itu dibedakan dari jenis ‘minyak’nya. Kartu pintar diberikan untuk membatasi pemakaian BBM (solar, premium) sedangkan kartu kendali diberikan untuk ‘mengendalikan’ distribusi minyak tanah dengan sistem tertutup. Jelaslah sudah ‘kartu-kartu misterius itu’ yang menurut pemerintah dengan kartu kendali mereka berharap bisa menghemat subsidi sebanyak 1,3 trilyun per tahun. Lalu dengan kartu pintar dapat dihemat 10 trilyun per tahun.

Nilai angka-angka itu merupakan penghematan yang lumayan besar. Namun, kita jangan hanya terpaku pada hasil akhir yaitu jumlah uang yang dihemat. Proses sosialisasi kartu-kartu sosial serta dampak lainnya juga harus diperhatikan. Sebenarnya, cara yang mungkin jitu adalah bukan pembatasan BBM melainkan pembatasan kendaraan pribadi lalu perbanyak kendaraan umum. Tentunya diimbangi dengan perbaikan fasilitas penunjang kendaraan umum tersebut.

Masalah “pembatasan” BBM belum reda, muncul berita darurat “pembatasan” listrik dari PLN. Dengan alasan gelombang laut yang tinggi membuat kapal-kapal pengangkut batu bara tidak bisa merapat. Akibatnya seluruh jaringan Jawa-Bali dinyatakan dalam kondisi darurat. Pemadaman di sebagian Jawa dan Bali pun tak terelakkan.

Sebelumnya PLN meminta jika masyarakat dapat menghemat listrik (baca: membatasi) maka pemadaman tidak akan terjadi. Bahkan PLN berinisiatif menerapkan paket insentif dan disinsentif bagi konsumen pada batas 80 persen dari angka patokan. Jika pelanggan memakai listrik di atas 80 persen, maka akan dikenai tarif 1,6 kali lebih mahal. Sebaliknya, pelanggan akan menikmati diskon 20 persen untuk pemakaian kurang dari 80 persen. Intinya PLN mengajak rakyat menghemat listrik tapi apakah itu mungkin.

Masalah “perbatasan” jika tidak kita selesaikan secara serius akan meninggalkan warisan pahit bagi anak cucu kita kelak. Demikian pula dengan masalah “pembatasan”. Jika “pembatasan” ini hanya ditimpakan pada rakyat sedangkan itu tidak berlaku pada para pemimpin, maka itu pasti ada “batas”nya. Mungkin saja batas kesabaran rakyat terlewati dan entah apa yang akan terjadi.

Dimuat di http://www.kabarindonesia.com 4 Maret 2008


Aksi

Information

2 responses

5 03 2008
neng fey

tapi masalah kapal yg ga bisa melaut karena gelombang memang bener loh pak, kebetulan saya kerja di persh pelayaran khusus tongkang yg mengangkut batubara.
dan menurut saya berhemat itu harus!!

24 07 2008
wahyugusti

Hai para para prajurit Pama, tindaklah tegas para pelaggar batas, pimpinlah prajuritmu untuk menjaga perbatasan NKRI dimana saja, para alumnus akmil tentunya bertanggung jawab pada semua taktik dan aturan NKRI, dalam menghadapi pencuri pencuri tanah perbatasan,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: