Catatan Revolusi Seorang Perempuan Amerika

10 03 2007

Judul   :  Revolusi di Nusa Damai
Penulis  :  K’tut Tantri
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal  : 368 halaman
Orang boleh saja bercerita tentang pengalamannya pada masa revolusi. Khususnya revolusi di Indonesia. Namun, bila yang bercerita adalah “orang luar” dan perempuan pula tentu akan lain ceritanya. Apalagi jika si pemilik cerita punya banyak hal menarik yang bisa diceritakan serta dituangkan dalam bentuk novel.
Buku ini merupakan terjemahan dari Revolt in Paradise (1960) dan cetakan ulang Revolusi di Nusa Damai (1982) karya K’tut Tantri, seorang perempuan Amerika. K’tut Tantri adalah nama yang diberikan oleh seorang raja Bali baginya yang datang ke Bali pada tahun 30-an. Ia juga diangkat anak oleh raja Bali itu dan tinggal di puri sebagai puteri raja yang keempat. Timothy Lindsey dalam The Romance of K’tut Tantri and Indonesia (1997) menuliskan berbagai nama alias si perempuan Amerika itu. Tercatat nama-nama seperti Miss Walker, Miss Tenchery, Mrs Muriel Pearson, Mrs Manx, Miss Daventri, Surabaya Sue, K’tut Tantri, Miss Oestermann, Sally van de As.
Bermula dari ketika berteduh dari hujan di Hollywood Boulevard. Persis di depan bioskop, mata seorang gadis kelahiran Pulau Man (sebuah pulau di Inggris) , tertumbuk pada poster film Bali, Surga Terakhir (Bali, The Last Paradise). Film yang mempromosikan keindahan dan keeksotisan Bali pada 1930-an sehingga para turis tertarik untuk datang. Ternyata upaya itu “berhasil”.
Seperti orang-orang kulit putih umumnya pada masa itu, K’tut Tantri melihat “timur” merupakan tempat eksotis yang harus dikunjungi. Ia pun tertarik datang. Maka pada bulan November, di tengah musim dingin yang menggigit, berangkatlah nona Amerika ini dari New York menuju Timur Jauh dengan menumpang kapal “Batavia”. Perjalanan setengah bumi dilakoninya mencari “surga terakhir” dengan seperangkat alat lukis (hal.11-13).
Petualangan “turistik” nya pun dimulai di Jawa, pulau yang berbeda dengan bayangannya. Apalagi dengan persiapan minim. Jalan yang berbelok-belok, menikung bak memecahkan teka-teka harus dilakoninya. Ia pun berkomentar: “Pulau Jawa merupakan mimpi yang menakutkan bagi pengemudi.” Belum lagi bahasa yang sama sekali berbeda membuat tak mudah untuk berkomunikasi (hal.15).
Berkenalan dengan makanan lokal di Jawa yang berbumbu pedas seperti pengalaman kuliner para pengunjung sebelumnya, Eliza Scidmore Java The Garden of the East dan Augusta de Wit dalam Java:Facts and Fancies juga dialami oleh K’tut Tantri.  Ia menikmati arem-arem yang berbungkus daun pisang (hal. 24).  Sementara itu di Bali, ia menyaksikan sendiri perempuan-perempuan Bali yang bertelanjang dada. Ia menggambarkan: “Aku melihat mereka di mana-mana. Di sepanjang jalan maupun di sawah, para wanita dengan polos memperagakan payudara yang sintal, sementara mereka berjalan beriringan satu-satu sambil menjunjung beban yang tidak kecil ukurannya di atas kepala.” (hal.28)
Selain itu ia juga harus menghadapi “keangkuhan” si tuan putih Belanda sebagai penguasa dengan berbagai aturan. “ Ini bukan Bali, melainkan Holland dalam ukuran kecil di mana setiap orang termasuk Anda wajib mematuhi undang-undang Belanda,” ujar seorang aspirant controleur distrik Denpasar di Bali Hotel. Ketika K’tut Tanri mengutarakan keinginannya untuk tinggal bersama orang Bali, pejabat Belanda melarangnya untuk tidak bergaul dengan si sawo matang. Ia pun menjawab: “Saya di sini karena ingin melihat Bali, bukan untuk hidup di hotel deluxe sambil menonton manusia-manusia kolonial minum-minum dan main tenis.” (hal.32) Sikapnya ini kelak akan menyulitkannya ketika berhadapan dengan pejabat-pejabat Belanda.
Uraian di atas merupakan bagian pertama (Melanglang Buana) dari novel yang terdiri dari tiga bagian ini.  Bagian pertama menceritakan periode 1932-1941 sebelum pendudukan Jepang dengan mengambil latar belakang Bali yang penuh dengan cerita-cerita menarik.
Sementara itu bagian kedua (Firdaus yang Hilang) menceritakan periode 1942-1945. Bagian ini juga penuh cerita menarik dan tegang. Beberapa tokoh penting yang menjadi founding father Indonesia muncul, seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Amir Syarifuddin. Kehidupan sebagai tawanan Jepang juga ia ceritakan meskipun sebelumnya ia masih dapat menghirup udara kebebasan lantaran ia mendapat keterangan sebagai warga Bali berdasarkan adopsi (hal.131). Bahkan sempat ikut dalam gerakan bawah tanah hingga akhirnya dimasukkan dalam tawanan oleh militer Jepang dan mendapatkan berbagai siksaan.
Pada bagian ketiga (Berjuang Demi Kemerdekaan) yang menceritakan periode 1945-1948, masih dihiasi dengan cerita-cerita ketegangan ala spionase. Perjuangannya untuk membantu Republik Indonesia yang masih bayi mewarnai bagian ini. Ia menjadi penyiar radio gelap di Jawa Timur yang dikelola bung Tomo. Siarannya membuat Indonesia menjadi pusat perhatian internasional. Oleh karena itu K’tut Tantri “diculik” oleh Barisan Baju Hitam pimpinan seorang mayor yang menginginkannya untuk menjadi penyiar di radio mereka. Barisan Baju Hitam ini adalah barisan pemuda pejuang yang hidup bak Robin Hood. Mereka merampok orang-orang Cina kaya dan membagikan hasil rampokannya pada para pengikut dan penduduk (hal.233).
Ada cerita menarik pada bagian ini yaitu ketika K’tut Tantri sukses membuat naskah pidato radio bahasa Inggris untuk Presiden Soekarno, ia diundang ke istana. Dengan bersarung kebaya, ia menghadap presiden. Ia terkejut karena melihat Presiden Soekarno berbusana santai. Sarung dengan jas pendek dan kopiah. Padahal gambaran sebelumnya yang ada di kepala Tantri adalah sosok gagah bersetelan putih-putih atau seragam khaki. Alasan Bung Karno yang sebelumnya sudah berseragam adalah: “Anda sudah repot-repot berdandan dengan busana nasional. Jadi kurasa sepatutnya Anda kuterima dengan pakaian nasional pula.” (hal.244). Tidak hanya itu, seperti yang sudah kita ketahui, Bung Karno pun memuji kepantasan K’tut Tanri berkebaya.
Hal menarik lainnya adalah menyelundup ke Singapura dengan menggunakan kapal kayu dari pelabuhan Tegal (hal.305). Rupanya korupsi tak kenal revolusi. Ada saja orang-orang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan kesempatan di tengah kesempitan. Ia melukiskan: “Orang-orang Indonesia sebelumnya tidak pernah memegang uang sebanyak itu. Godaan terlampau besar bagi orang semuda mereka (hal.328). Satu lagi episode sejarah Indonesia dilukiskan oleh seorang perempuan Amerika yang simpati pada Indonesia.
Pada 1949 K’tut Tantri kembali ke Indonesia menjadi saksi “penyerahan” kedaulatan Indonesia dari tangan Belanda. Ia lalu menjadi pegawai di Kementerian Penerangan.  Walau K’tut Tantri ingin menghabiskan masa tuanya dan meninggal di Indonesia, ia meninggal dalam tidurnya di Sydney, Australia pada 27 Juli 1997. Seorang warga Amerika kelahiran Inggris yang diperkenalkan oleh Bung Karno kepada rakyat Indonesia sebagai orang yang telah berjuang sekuat tenaga untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peti matinya ditutup bendera merah putih berhias warna khas Bali, kuning dan putih. Abunya setelah dikremasi dibawa ke Bali untuk disebar di sana. Di Nusa Damai!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: