Kreativitas Pujangga Jawa menghadapi Rasionalisme Barat

10 03 2007

Judul   :  Pujangga Jawa Dan Bayang-Bayang Kolonial
Penulis  :  S.Margana
Penerbit :  Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004
Tebal  :  xxii + 270 halaman
Sebagai sumber historiografi, sumber-sumber dari babad seringkali dianggap remeh. Alasannya, isi babad cenderung berlebih-lebihan, berisi mitos-mitos, dan dongeng belaka dan bersifat istana sentris yang menceritakan kepahlawanan para raja.  Sehingga babad tersebut lebih dianggap sebagai sumber sastra dan bukan sumber sejarah. Namun, bukan berarti penggunaan sumber-sumber babad dalam historiografi lalu dinafikan begitu saja.
Sejarawan Belanda, H.J. de Graaf berpendapat kesalahan utama yang dilakukan para sejarawan modern yang meneliti babad (Jawa) adalah mereka memulai menganalisa isi babad dari halaman-halaman pertama yang cenderung berisi cerita-cerita mitologis. Menurut sejarawan yang berguru pada filolog Jawa R.M. Ngabehi Poerbatjaraka penelitian babad seharusnya dimulai dari peristiwa-peristiwa yang paling dekat dengan masa hidup penulisnya. Bila peristiwa-peristiwa yang paling dekat dengan masa hidup penulisnya dikonfrontasikan dengan sumber Eropa maka akan terlihat bahwa penulis babad cukup akurat dalam mencatat peristiwa-peristiwa sejaman. Buktinya, de Graaf antara lain berhasil menggambarkan sejarah Mataram yang lengkap. Mulai dari kemunculan –De regering van Panembahan Senapati Ingalaga (1954), berkembang –De regering van Sultan Agung (1958) hingga runtuhnya kerajaan itu –De regering van Sunan Mangkurat I Tegal Wangi (1961,1962).
Pendapat tersebut diperkuat oleh M.C.Ricklefs yang merupakan murid H.J.de Graaf. Setelah menganalisa Babad Sengkala, ia mengemukakan sebuah statistik teks tentang kredibilitas babad Jawa dalam merekam peristiwa-peristiwa sejarah. Hasilnya, pencatatan peristiwa-peristiwa yang dekat dengan masa hidup penulisannya 90 persen dapat dipertanggungjawabkan ketepatannya. Berbeda dengan gurunya yang hanya meneliti kalangan elite keraton (aspek perang/militer dan politik), Ricklefs memperluas penelitiannya ke aspek-aspek ekonomi, budaya, sastra, dan agama untuk menggambarkan dinamika masyarakat Jawa di sekitar keraton serta interaksinya dengan kekuatan asing. Ada tiga karya utamanya yang penting: Jogjakarta under Sultan Mangkubumi 1749-92 (1974), War, Culture and Economy in Java 1677-1726 (1993), dan The Seen and Unseen Worlds in Java 1726-1749 (1998). Melalui ketiga karyanya ini ia berhasil menggambarkan perkembangan sejarah Jawa di sekitar keraton pada abad ke-17 dan 18. Upaya de Graaf dan Ricklefs dalam meneliti sejarah Jawa melalui sumber-sumber babad kelak diikuti oleh peneliti-peneliti lainnya seperti Peter Carey dengan studi tentang perang Jawa: Babad Dipanagara, An Account of the Outbreak of the Java War 1825-1830 (1981), Ann Kumar dengan Surapati, Man dan Legend, A Study of three Babad Traditions (1976) dan Vincent Houben dengan Kraton en Kumpeni, Surakarta en Yogyakarta 1830-1870 (1987).
Meskipun, sumber-sumber babad ini masih diragukan oleh sebagian sejarawan, namun pendekatan ini tampaknya telah mendapat tempat dalam pikiran sejarawan modern. Berbagai kajian modern tentang sejarah Jawa dari para peneliti telah dihasilkan bersumber pada babad-babad tetapi bagaimana dengan para penulis babad itu sendiri ? Dari sekian banyak kajian tentang babad tidak banyak yang mengungkapkan sisi penulisnya. Padahal peran historis sejarawan Jawa tersebut tidaklah kecil.
Melalui buku ini, S. Margana salah seorang sejarawan muda Indonesia yang juga staf pengajar di UGM membahas kreativitas dan tradisi pemikiran para intelektual Jawa tradisional (pujangga) tentang sastra, sejarah serta masalah-masalah politis-kultural yang mereka hadapi didasarkan pada berbagai studi mutakhir tentang sastra dan historiografi Jawa modern. Pendekatan yang dilakukan oleh sejarawan yang sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universiteit Leiden, Belanda ini terhadap sumber-sumber babad (baca: naskah lama) agak berbeda dengan apa yang dilakukan para peneliti sebelumnya. Ia menitikberatkan pada kajian biografis para pujangga istana beserta persoalan psikologis, sosial, kultural dan politis serta analisis terhadap pemikiran-pemikiran pujangga istana tersebut. Di sini ia melihat sumber-sumber babad itu tidak hanya sebagai sumber sejarah tetapi juga sebagai sejarah (Jawa) itu sendiri. Pendekatan tersebut sebenarnya pernah dilakukan oleh filolog Nancy Florida dalam Writing the Past Inscribing the Future:History as Prophecy in Colonial Java (1989). Di sini, Nancy menempatkan teks-teks Jawa dari abad ke-19 dalam konteksnya sebagai history in writing (sejarah dalam tulisan) dan history as writing (sejarah sebagai tulisan).
            Ketika Belanda berhasil mendekati jantung kebudayaan keraton maka konsentrasi penelitian orang-orang Belanda pun diarahkan pada sastra istana Surakarta. Para pujangga istana dan abdi-dalem payeratan lainnya pun berdiskusi dan dengan para Javanisi seperti Winter dan Wilkens. Para intelektual Jawa Surakarta abad ke-19 mulai memasuki dua dunia, dua kebudayaan yang berbeda. Di satu sisi, mereka berada pada batas-batas tradisi yang tumbuh dalam kebudayaan keraton. Sementara di sisi yang lain mereka berhubungan langsung dengan para peneliti dari dunia akademis Barat (baca:Belanda).
Perbenturan antara tradisi pemikiran para pujangga Jawa dan rasional modern para akademisi kolonial ternyata tidak mempengaruhi tradisi para pujangga Jawa tersebut.  Bahkan partisipasi orang Jawa dalam membentuk Dutch Javanese world atau dunia Jawa dalam pikiran akademik Belanda sangat besar. Di samping bekerja di keraton sebagai pujangga, mereka juga menjadi informan bagi para peneliti Belanda itu (hal.111).
Ada hal menarik sehubungan dengan para penulis babad tersebut. Pujangga, menurut Pigeaud berasal dari bahasa Kawi bhujangga. Pada masa Jawa kuno istilah ini dipakai untuk menyebut seseorang yang memiliki profesi di semua bidang keilmuwan. Sementara untuk menyebut sastrawan istana digunakan istilah kawi. Berbeda dengan Pigeaud, menurut C.F.Winter dan R.Ng. Ranggawarsita bhujangga hanya memiliki satu arti saja yaitu sawer yang dalam bahasa Indonesia berarti ular (hal.126). Dalam konteks dunia kepujanggaan Jawa, kata ‘ular’ adalah simbolisasi sifat seorang pujangga yang memiliki pemikiran tajam, menguasai masalah dan apa yang diucapkan dapat menjadi kenyataan seperti bisa ular. Pendapat serupa diungkapkan pula oleh C.C Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (1974).
Selama abad ke-18 dan 19 dikenal tiga belas tokoh yang dianggap sebagai pujangga besar, termasuk di dalamnya dua raja Surakarta yaitu Pakubuwana II dan IV , serta seorang Pangeran, yaitu Pangeran Adilangu II dan dua Adipati dari Semarang (hal.133). Di samping nama-nama besar lainnya seperti Carik Bajra, Yasadipura I, Yasadipura II dan Ranggawarsita.
Misalnya Yasadipura I –yang kerap dipanggil Jaka Subuh karena dilahirkan pada waktu subuh – dalam karyanya Babad Giyanti.  Nama ‘Giyanti’ sendiri diambil dari sebuah tempat di sekitar lereng pegunungan Lawu, sebelah timur kota Surakarta, tempat perjanjian pembagian kerajaan Surakarta dan Yogyakarta tahun 1755. Namun, ia yang seharusnya menonjolkan kepahlawanan Pakubuwana III malah menggambarkan kepahlawanan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang memberontak terhadap Pakubuwana III. Sebaliknya ia menggambarkan Pakubuwana III sebagai sosok yang lemah dan kurang simpatik (hal.158).
Begitupula dengan Yasadipura II, putra Yasadipura I,  dalam karyanya Serat Wicara Keras. Wicara Keras diartikan bicara blak-blakan, terus terang yang menunjukkan ganjalan batin sang pujangga terhadap realitas sosial politik masyarakat Surakarta yang sedang ‘sakit’. Di sana ia mengkritik tokoh-tokoh pejabat, bangsawan (termasuk Pakubuwono IV, rajanya sendiri) sebagai manusia yang ‘sakit’. Orang pertama yang ia kritik adalah Bupati Sujanapura, tokoh yang mempengaruhi Pakubuwono IV untuk melawan Belanda. Ia dianggap orang congkak yang gayanya melebihi kebesaran Sultan Mangkubumi, padahal ia tidak lebih seperti wong ngutil alias pencopet (hal.164). Atau kritik terhadap Tumenggung Mangun Oneng dari Pati, seorang yang berasal dari lapisan sosial rendah tetapi tidak tahu diri dan bertindak sewenang-wenang (hal.165).
Tokoh lain adalah Ranggawarsita, pujangga penutup kerajaan. Sebagai penulis babad dan pujangga istana, mengapa ia tidak pernah menulis babad yang menceritakan kejadian-kejadian sejaman seperti para pendahulunya , apakah hal tersebut karena adanya disharmonisasi antara raja-pujangga sehingga Raja lebih percaya pada seorang juru tulis istana untuk menuliskan babad daripada Ranggawarsita? Jawabannya diulas secara gamblang dalam buku ini.
Ranggawarsita terkenal dengan konsep ‘Jaman Edan’ nya dalam Serat Kalatida yang tampaknya dapat dikaitkan dengan konteks sejarah sosial-politik Surakarta pada abad ke-19. Bagian lain dari karya-karya Ranggawarsita yang banyak dikagumi oleh para peneliti asing maupun dari Indonesia adalah aspek prophecy (ramalan). Seperti dalam Serat Sabdojati, Serat Sabdatama, dan Serat Jaka Lodhang (hal.191). Dalam Serat Sabdatama, misalnya, Ranggawarsita memberikan ramalan dalam bentuk simbol-simbol mengenai dicapainya jaman kebaikan (kemerdekaan) setelah wewe putih (sejenis mahluk halus) – yang menggambarkan para pejuang kemerdekaan – bersenjatakan tebu wulung/hitam (bambu runcing) menghancurkan penjajah Belanda yang disimbolkan dengan wedhon (setan pocong) (hal.192-193)
Adanya pergeseran ideologis dengan contoh dua sejarawan tradisional Jawa dalam menilai peristiwa sejarah, terutama luruhnya teori tentang raja sebagai patron (istana sentris) memberikan makna yang menarik. Oleh karena dengan demikian, hal tersebut mempertentangkan konsepsi ideal para pujangga Jawa sebagai penjaga kewibawaan dan keluhuran rajanya.
           Sudah semestinya kita harus bersyukur bahwa masih ada seorang sejarawan muda Indonesia yang berminat pada naskah-naskah babad di tengah-tengah para peneliti asing karena selain kita, siapa lagi yang harus menggelutinya. Tentunya, tidak hanya minat, serta ketrampilan peneliti untuk dapat meneliti naskah-naskah tersebut sebagai sumber sejarah. Dukungan dari pihak lain juga tetap diperlukan untuk dapat mengungkapkan sejarah berbagai etnik budaya di Indonesia lainnya sehingga tidak hanya terbatas di Jawa saja.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: