Pakaian , Politik dan Identitas Bangsa

10 03 2007

Judul : Outward Appereances:Trend, Identitas, Kepentingan
Judul Asli : Outward Appereances: Dressing State and Society in Indonesia
Penulis : Henk Schulte Nordholt (ed.)
Penerjemah : M.Imam Azis
Penerbit : LkiS Yogyakarta, 2005
Tebal : xiv + 549 halaman
Jangan nilai orang dari pakaiannya. Inilah nasehat yang sering kita dengar. Maksudnya, penampilan bukanlah hal penting karena masih ada unsur lain yang jauh lebih penting. Bukti dari nasehat ini adalah penampilan para pencopet profesional yang beroperasi di bis-bis ibukota. Dengan penampilan perlente mirip para pekerja kantoran mereka beroperasi mencari mangsa. Sehingga kita yang lengah tak sadar dompet atau telefon genggam sudah berpindah tempat. Penampilan perlente para copet ini pun sebenarnya sudah sejak dahulu. Tepatnya tahun 40-an sebelum Jepang masuk. Menurut sejarawan J.J.Rizal dalam majalah Moesson (2004), para copet itu tidak hanya perlente dan klimis, mereka juga kerapkali mengeluarkan kata-kata manis, enak dijadikan teman mengobrol. Namun, pada saat kita lengah ‘tangan terampil’ mereka bekerja.
Sebaliknya, ide bahwa penampilan merupakan hal yang penting inilah yang justru ditampilkan dalam buku Outward Appereances ini. Cara berpakaian dianggap dapat membantu memahami perkembangan suatu masyarakat serta identitas masyarakat tersebut. Seperti halnya tema utama buku ini yang merupakan kumpulan makalah dalam seminar di Universiteit Leiden, Belanda tahun 1993 dan dibukukan tahun 1997.
Pakaian memang merupakan memiliki arti penting seperti yang diungkapkan oleh Henk Schulte Nordholdt dengan mengutip cerita tentang kemeja dari dua mantan presiden Indonesia. Pertama, pengalaman memalukan mantan presiden Soeharto tentang kemeja. Kemeja yang dibuat oleh nenek buyutnya ternyata tidak diberikan pada dirinya melainkan pada sepupunya. Sehingga Soeharto merasa dipermalukan dan merasa kasihan pada dirinya sendiri. Lain lagi dengan anekdot Soekarno tentang kemeja yang diceritakan almarhum Romo Mangun ketika menerima penghargaan profesor A.Teeuw tahun 1996. Ketika Hatta, Syahrir dan Soekarno dipenjarakan selama revolusi, mereka diperbolehkan meminta beberapa benda tertentu. Hatta meminta buku-buku, Syahrir meminta koran berbahasa Belanda sedangkan Soekarno meminta sebuah kemeja Arrow yang baru (hal.30-31).
Sebelas tulisan dengan berbagai sudut pandang mengenai penampilan luar ditampilkan dalam buku ini yaitu tulisan Kees van Dijk, Jean Gelman Taylor, Rudolf Mrázek, Elsbeth Locher-Scholten, Henk Maier, William H Frederick, James Danandjaja, Klaus H.Schreiner, Jacques Leclerc, Teruo Sekimoto, Lizzy van Leeuwen.
Diawali dengan tulisan Kees van Dijk yang menyuguhkan tinjauan historis, berawal dari kontak pertama penduduk setempat dengan bangsa Eropa pada abad ke-17 hingga perkembangan terbaru. Dalam tulisannya van Dijk menjelaskan bagaimana pakaian dijadikan bagian dari alat kontrol VOC. Misalnya VOC melalui ordonansi tahun 1658 meminta orang Jawa di Batavia memakai kostum mereka sendiri dan melarang mereka berbaur dengan ‘bangsa’ lain (hal.67). van Dijk juga mengungkapkan setelan safari hingga kemeja batik longgar yang diperkenalkan Ali Sadikin pada tahun 70-an sebagai alternatif pengganti setelan Barat yang kurang nyaman bagi iklim Jakarta yang panas dan lembab (hal.108).
Sementara itu Jean Gelman Taylor mengungkapkan perspektif gender dalam mengeksplorasi bagaimana negara kolonial telah mendorong perbedaan penampilan antara pria dan perempuan. Misalnya dalam hal kostum nasional yang dikembangkan oleh Soekarno dan Soeharto. Kostum itu terdiri dari setelan Barat bagi para pria dan kain kebaya bagi para perempuan. Kain kebaya yang dililitkan dengan kencang seakan mencegah gerakan yang cepat dan nyaman bagi para perempuan. Kain kebaya juga dianggap mencirikan bangsa yang non Barat serta dianggap mewakili esensi bangsa (hal.162). Di samping itu Taylor memperlihatkan bahwa proses pembentukan negara kolonial disertai oleh suatu sejarah sosial mengenai perubahan aturan-aturan berpakaian yang kelak warisannya dapat ditemukan dalam penampilan publik para pemegang kekuasaan di Indonesia saat ini.
Lain halnya dengan Rudolf Mrázek yang membahas perubahan-perubahan yang terjadi sejak permulaan awal abad ke-20 ketika elite baru masyarakat Indonesia lahir hingga tahun 40-an. Mrázek menghubungkan antara nasionalisme dan lahirnya kenecisan pribumi. Ia menggambarkan bagaimana orang ‘pribumi’ mengenakan pakaian Belanda untuk menempatkan dirinya ke dalam sebuah masyarakat kolonial yang ‘modern’ (hal.190). Hal menarik yang juga diungkap adalah gaya berpakaian Sjahrir sewaktu kembali dari Belanda. Padahal sewaktu tinggal di Belanda ia terkenal cukup ‘gaul’ dengan golongan radikal. Ketika kembali dari Belanda pada akhir 1931, ia berpakaian cukup memprihatinkan. Seperti yang digambarkan oleh Soewarsih Djojopuspito bagaimana Sjahrir hanya mengenakan selop besar yang tampaknya pinjaman, selembar sarung bernoda, dan tutup kepala. Ditambah dengan lengan jas yang terlalu panjang dan tak jelas lagi warna aslinya (hal.206)
Gaya berpakaian pemuda di Jawa Timur pada masa revolusi merupakan tema tulisan William H. Frederick. Dengan rambut panjang menjuntai, pakaian militer, sepucuk pistol merupakan ciri khas gaya para pejuang di masa revolusi. Terkadang ditambah dengan kumis dan jenggot (hal.347). Penampilan seperti itu, bila mengikuti standarisasi Benedict Anderson berhubungan dengan ‘tradisi jago’. Namun ada juga para pemuda pejuang berpenampilan klimis karena menganggap kumis dan brewok dikaitkan dengan kriminil yang akan menjadi sasaran pasukan Belanda serta tidak disenangi penduduk yang khawatir kalau-kalau mereka gerombolan perampok (hal.349)
Hal menarik lainnya adalah pemakaian alas kaki yang dikaitkan dengan ideologi tertentu seperti yang diuraikan oleh James Danandjaja. Adalah sandalet, sejenis alas kaki kulit dengan dua ban yang disebut sandal (dari bahasa Belanda sandaal) yang diperkenalkan di masa pendudukan Jepang. James Danandjaja menduga sandalet diperkenalkan karena langkanya bahan kulit dan kaus kaki (hal.372).
Sandalet ini bertahan cukup lama hingga keberadaannya terhenti tiba-tiba presis seperti saat permulaan pemakaiannya. Pada masa Soekarno, sandalet terkenal dan populer di kalangan guru dan dosen karena nyaman, murah dan sangat cocok untuk iklim tropis. Akan tetapi, setelah 30 September 1965, tidak seorang pun berani mengenakannya. Sandalet ‘dilarang’ karena diidentikkan dengan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat ) atau HIS (Himpunan Sarjana Indonesia) yang dianggap bersimpati pada PKI (Partai Komunis Indonesia). Bahkan James menuturkan pengalamannya sewaktu menjadi dosen paruh waktu di Universitas Kristen Indonesia. Ada poster yang bertuliskan: ‘Siapa yang pakai sandalet adalah PKI’. Karuan saja sebagai pemakai sandalet James terpaksa berhenti memakainya dan hingga kini terpaksa memakai sepatu dan kaus kaki yang tidak nyaman (hal.373).
Penampilan luar atau pakaian dan politik merupakan hal yang tak dapat dipisahkan. Kita tentu masih ingat sewaktu pemilu setelah reformasi 1998, mereka yang mengenakan kaos partai Golkar dengan warna kuningnya yang khas justru menjadi sasaran amukan para pendukung partai lainnya. Suatu hal yang berbanding terbalik dengan masa sebelumnya ketika semua diwarnai kuning.
Di saat-saat menjelang lengsernya Gus Dur sebagai presiden, kita disuguhi penampilan yang cukup menarik dari sang presiden. Dengan mengenakan celana santai beliau melambaikan tangan pada para pendukungnya di depan Istana. Penampilan yang langka dari seorang presiden.
Tuntutan para anggota dewan kita yang terhormat untuk biaya pakaian pun beberapa waktu lalu juga menjadi suatu hal yang menarik untuk disimak. Mungkin saja sebelum diangkat sumpahnya menjadi anggota dewan, mereka hanya terbiasa mengenakan kaos dan sandal tetapi berhubung sudah berubah status dan harus menahan udara dingin dalam gedung MPR/DPR tidak ada salahnya jas menjadi pilihan daripada masuk angin.
Buku ini meskipun memiliki sedikit kekurangan, seperti tidak adanya nama penulis Lizzy van Leeuwen di daftar isi , cukup menarik untuk disimak dan masih aktual. Alasannya karena mengupas sesuatu yang kasat mata dari apa yang dikenakan oleh negara dan masyarakat Indonesia. Hal itu merupakan perwujudan dari pencarian identitas Indonesia. Identitas Indonesia yang masih berproses. Seperti halnya jawaban yang harus kita berikan bila kita ditanya yang manakah pakaian asli Indonesia itu?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: