Pengalaman ‘Saudara Tua’ di Jawa

10 03 2007

Judul  :  Journeys to Java
Penulis  :  Marquis Yoshichika Tokugawa
Penerjemah :  Masatoshi Iguchi
Penerbit :  ITB Press, Bandung, 2004
Tebal  :  lxi + 286 halaman

Ada banyak sumber sejarah berupa catatan perjalanan orang asing di Jawa pada abad ke-20. Dalam catatan mereka diceritakan pengalaman dan kesan selama mengunjungi Jawa. Mulai dari kesan baik yang menyenangkan hingga pengalaman buruk yang terus membekas. Kebanyakan sumber-sumber itu ditulis oleh orang Eropa. Namun, sumber-sumber catatan yang berasal dari ‘saudara tua’ kita alias dari Jepang sangat minim. Padahal sebagai salah satu sumber, catatan-catatan perjalanan mereka sangat penting untuk mengetahui kesan-kesan dari sudut pandang yang berbeda. Penyebabnya adalah kebanyakan kesan-kesan itu ditulis dalam bahasa Jepang yang tidak dikuasai oleh para peneliti. Oleh karena itu buku  Journeys to Java karya Marquis Yoshichika Tokugawa sepertinya memberikan angin segar untuk mengetahui kesan-kesan ‘saudara tua’ kita.
Buku yang disajikan ini sudah diterjemahkan dari bahasa aslinya oleh Masatoshi Iguchi ke dalam bahasa Inggris. Awalnya, buku yang diberi judul Travels around Java in 1920s’ diterbitkan sebagai suvenir untuk peserta International Workshop on Green Polymers pada bulan November 1996 di Bandung dan Bogor. Dalam versi terjemahan Inggris ini terdiri dari dua catatan perjalanan yaitu ‘A Journey to Djakatra’ dan ‘A Journey to Java’. Catatan perjalanan pertama ditulis tahun 1929 ketika Yoshichika Tokugawa berkunjung ke Jawa untuk menghadiri The Fourth Pasific Science Congress- Java 1929 di Bandung dan Bogor. Sementara itu catatan perjalanan kedua diambil dari buku On hunting in the Jungle of Malaya yang diterbitkan pertama kali tahun 1925. Catatan ini berisi pengalaman Yoshichika Tokugawa di Asia Tenggara tahun 1921.
Buku ini diawali dengan pengantar dari penerjemah yang mengungkapkan latar belakang penulis dan sejarah kronologis Hindia Belanda dari tahun 1513 hingga 1942. Yoshichika Tokugawa yang dilahirkan 5 Oktober 1886 merupakan anak kelima dari Lord Yoshinaga Matsudiara dari Echizen. Salah seorang keluarga pendiri shogunat Tokugawa. Berbeda dengan kebanyakan para putra bangsawan pada masa itu yang berkarir di bidang politik atau militer, Yoshichika memilih karir sebagai seorang ilmuwan yang mempelajari sejarah dan biologi di Tokyo Imperial University. Di samping itu ia memiliki hobi berburu. Bukan sekedar berburu ayam hutan atau rubah tetapi beruang, harimau dan gajah (hal xvii).
Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan kapal laut, seperti halnya catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Eropa lainnya, Yoshichika menuliskan pengalaman turistiknya tentang kesibukan di pelabuhan Tanjung Priok. Namun, Tanjung Priok menurutnya tidak seramai pelabuhan Singapura. Ia mencatat pakaian orang-orang di sana, seperti orang Jawa yang mengenakan kain kepala dari batik serta orang Jepang dan Belanda yang mengenakan setelan berwarna putih (hal 87).
Yoshichika dan para peserta kongres lainnya juga disuguhi parade dan tarian dari berbagai suku di Hindia Belanda mulai dari Sumatra hingga Papua. Sajian itu ditampilkan di kebun binatang Cikini, sekarang Taman Ismail Marzuki. Ia terkesan dengan beragamnya suku di Hindia. Mulai dari yang berpakaian lengkap hingga nyaris telanjang sambil membawa senjata tajam (hal 95-96). Rombongan peserta kongres kemudian dibawa ke Bogor dan Bandung dengan kereta yang dicarter secara khusus. Udara panas seperti direbus dan rasa lelah ternyata sangat mengganggu para peserta. Ketika ditanya oleh salah seorang panitia tempat mana saja yang menarik usai mengunjungi kebun raya Bogor, semua peserta menjawab dengan penuh semangat: “Semua tempat!” (hal 110).
Di Bandung, di sela-sela kongres, para peserta dihibur dengan sora-tobi-no-karakuri (pesawat terbang) oleh Koninklijk Nederlands Indie Luchtvaart Maatschappij (Maskapai penerbangan Hindia Belanda) untuk menyaksikan kawah Tangkubanperahu dari udara. Namun, tidak banyak peserta yang ikut. Mungkin mereka takut terebus di atas kawah, tulis Yoshichika (hal 112). Bahkan ketika usai menikmati plesir dari udara itu, sambil berkelakar Yoshichika berkata pada kelompok berikutnya: ‘Jangan khawatir, Anda tak akan dilempar ke dalam kawah!.’ (hal 113)
Masalah komunikasi merupakan masalah yang kerap dihadapi oleh para pendatang asing. Misalnya pengalaman para peserta kongres di tengah perjalanan dari Surabaya ke Bandung. Mereka hendak membeli beberapa buah jeruk dan menganggap harga lima belas sen untuk sebuah jeruk terlalu mahal. Mereka lalu menawar sepuluh sen. Wanita tua penjual jeruk itu menolak dalam bahasa Jawa, sementara kereta hendak berangkat. Para peserta kongres mulai kesal dan masing-masing memberikan sepuluh sen serta mengambil sebuah jeruk. Kereta pun berangkat. Wanita itu tampaknya juga kesal dan hanya bisa menatap dari balik asap yang ditinggalkan kereta. Ketika mereka hendak menikmati jeruk itu salah seorang pria kulit putih yang menyaksikan tingkah laku mereka sejak awal berkata sambil tersenyum bahwa harga sebuah jeruk adalah lima sen. Itulah yang sebenarnya ingin dikatakan wanita tua penjual jeruk itu (hal 139). Demikian halnya dengan masalah sakit perut yang dialami hampir semua peserta kongres. Ternyata itu disebabkan oleh makanan di kapal K.P.M ketika mengunjungi Bali. Sakit perut dan hujan terus menerus membuat kunjungan ke Bali menjadi tidak berkesan (hal 150).
Yoshichika juga membandingkan budaya di Jawa, Bali dengan Jepang. Seperti ketika menyaksikan tarian Bali yang disebabkan kerasukan arwah ia  membandingkannya dengan ibaraki, tarian Jepang di masa Meiji (hal 96). Lalu wayang wong Solo yang menurutnya hampir serupa dengan nohgaku, tarian yang ditampilkan di istana Jepang pada abad ke-13 (hal 164). Perbandingan dua budaya ini kelak dilanjutkan oleh kartunis Ono Saseo pada 1942 dalam Unabara shinbun yang menyandingkan kehidupan masyarakat di Jepang dan Bali.
Seperti halnya orang Eropa, Yoshichika terkesan dengan Dutch Wife alias bantal guling yang ternyata ‘menyelamatkannya’ dari udara dingin di pagi hari dan menemaninya tidur siang menghindari udara panas (hal 192). Ia juga menuliskan kesan mengenai kereta api, khususnya kereta ekspres di Jawa. Kereta ekspres biasanya berangkat pukul enam pagi tetapi tidak ada yang beroperasi pada malam hari. Yoshichika menduga hal itu disebabkan banyak orang yang pergi pagi-pagi sekali lalu mereka tidur siang di sore hari dan bersantai di malam hari. Dugaannya tidak meleset. Alasan kedua adalah karena perusahaan kereta api menggaji para pekerja pribumi (terutama orang Jawa) dengan gaji yang rendah tapi mereka tidak mempercayai pekerja pribumi untuk menjalankan kereta di malam hari (hal 193). Sentilan humornya muncul ketika melihat patung tengkorak Pieter Eberveld yang dihukum mati di Batavia karena dituduh memberontak. Menurutnya adalah hal yang menakutkan membayangkan bila seseorang mengkhianati Belanda, maka nasibnya akan sama seperti tengkorak yang membatu tersebut (hal 229).
Catatan perjalanan dan tulisan sejenis merupakan bagian dari bentuk akumulasi pengalaman seseorang atas budaya massa pada suatu masa. Berbeda dengan catatan perjalanan para penulis atau seniman yang direkrut oleh pemerintah militer Jepang untuk propaganda, catatan perjalanan seorang ilmuwan bangsawan ini tampak lebih manusiawi lepas dari unsur propaganda. Misalnya buku Nangokuki (Perjalanan di negara-negara selatan) karya Yosaburo Takekoshi (1917) dan Nanyo Suki (Perjalanan di daerah selatan) karya Yusuke Tsurumi (1917). Kedua buku ini, tanpa disadari penulisnya, menjadi buku yang berpengaruh dalam penerapan Nanshinron yaitu teori ke arah selatan oleh pihak militer Jepang.
Namun, menurut Iskandar P. Nugraha pengajar di University of New South Wales Australia, untuk menggunakan catatan perjalanan sebagai sumber sejarah kita harus mengetahui latar belakang penulisnya (umur, jabatan, gender, kepercayaan dan lain-lain). Dengan kata lain para peneliti ditantang untuk melatih dirinya membaca apa yang ada di benak penulisnya dan bukan sekedar membaca produk dalam bentuk rangkaian naratif tersebut. Tentunya di sini diperlukan pisau analisis lain. Dilengkapi dengan foto-foto (koleksi pribadi maupun koleksi lainnya),  peta, dan indeks membuat buku ini cukup menarik dan informatif. Hanya saja angka-angka Romawi di halaman lampiran untuk foto dan indeks sedikit menganggu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: