Sarung

3 04 2007

Menurut cerita, bangsa yang mengenakan sarung dianggap bangsa yang lamban dan cenderung malas. Masalahnya, sarung tersebut membuat sang pemakai menjadi sulit bergerak dengan cepat serta tidak bebas. Coba bayangkan, dengan lilitan kain yang membelit dari bawah pusar kita hingga ke mata kaki, apa sanggup kita berlari kencang bila dikejar anjing (gila). Tapi toh, cerita itu belum tentu sepenuhnya benar.

Bicara bebas, bukankah dengan mengenakan sarung juga bisa lebih bebas. Stop. Anda jangan yang berpikir yang bukan-bukan dulu. Bebas di sini berkaitan dengan sifat multifungsi serta kapan menggunakan sarung itu. Sarung dapat digunakan dalam berbagai acara, baik formal dan non formal. Mulai dijadikan pakaian kondangan, akad nikah (tidak selalu), untuk shalat, selimut penahan nyamuk di malam hari, bisa dijadikan tas serbaguna jika keadaan darurat ( ini sering dimanfaatkan oleh para maling konvensional yang juga menjadikan sarung sebagai topeng mereka), dijadikan kamar mandi darurat di kali sewaktu pergi kemping. Bahkan, para jawara di masa lalu juga menjadikan sarung sebagai asesoris sekaligu senjata yang setajam golok.

Nah, bicara lamban para pemakai sarung di Bali punya kiat sendiri yang terbukti jitu. Kain sarung tersebut mereka kenakan seperti mengenakan popok bayi. Bagian bawah sisi belakang sarung mereka angkat ke depan lalu digulung seperti biasa. Alhasil mereka bebas beraktivitas dan tidak lamban. Kalaupun ada yang lamban, itu karena mereka dasarnya malas saja. Bukan karena memakai sarung.

Sementara itu teman-teman di kalangan pesantren pun kerapkali disebut kaum sarungan. Alasannya, mereka biasa mengenakan sarung dalam setiap aktivitasnya. Tentunya, sekarang ini sudah berubah dan tidak semua santri di pesantren mengenakan sarung.
Apa memang sarung hanya dikenal dalam budaya Asia saja? Sepertinya memang begitu karena setahu saya sarung tidak dikenal di Eropa. Kecuali sarung kotak-kotak setinggi lutut milik orang-orang Skotlandia yang disebut kilt. Kalau Anda pernah menyaksikan film Brave Heart, di situ Anda bisa melihat Mel Gibson dengan ‘sarung’ Skotlandianya. Beberapa tahun silam, Michael Keadis, vokalis grup Red Hot Chilli Pepper, sewaktu membacakan salah satu nominasi MTV Award dengan cueknya mengenakan kain sejenis sarung berwarna gelap tanpa mengenakan pakaian alias telanjang dada. Padahal di negara kita yang puanas ini, memakai sarung tanpa busana sambil ote-ote adalah hal yang biasa. Apalagi setelah makan siang. Nikmatnya, gak tergantikan.

Ketika harus ‘nyantri’ ke Eropa saya sempat was-was tidak bisa mengenakan asesoris santai kegemaran saya ini. Rupanya rasa khawatir saya tidak terbukti. Teman-teman di sana yang di tanah air memang santri betulan rupanya tak melepaskan kebiasaan mereka sebagai pemakai sarung. Ya, tentunya mereka pakai di waktu santai karena tidak mungkin lah kalau lagi ‘nyantri’ dengan ‘kyai’ professor mereka mengenakan sarung. Sarung beraneka motif, ada yang kotak-kotak, garis-garis halus hingga batik ini akhirnya menjadi dress code tak resmi kami menjelang musim dingin. Tapi, tentunya tidak bisa sambil ote-ote seperti di tanah air. Lha, apa mau masuk angin londo?

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: