Menjadi Indo Jangan Setengah-Setengah!

15 04 2007

Menjadi orang Indo bukan berarti menjadi setengah-setengah. Demikian pesan Tjalie Robinson alias Jan Boon, ayah Rogier Boon seorang ilustrator dan desainer grafis yang karyanya dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta, mulai 9 Maret hingga 11 April 2007 lalu.
Menjadi orang Indo justru memikul beban ganda: Oost en West (Timur dan Barat). Budaya campuran merupakan suatu janji dan mengabdi pada masyarakat keturunan Indo yang harus diwujudkan, lanjut Tjalie Robinson.

Rogier Boon dilahirkan di Meester Cornelis (Jatinegara) pada 19 Juni 1936. Pada ulang tahunnya yang ke-17 (19 Juni 1954), ia kembali ke Belanda bersama ayah, ibu tiri dan adik-adik tirinya. Pada masa itu pemerintah Indonesia memang sedang getol-getolnya menasionalisasi semua hal yang berbau Belanda. Bahasa Belanda dilarang padahal para founding father kita menyerap ilmu melalui bahasa itu. Bahkan urusan nama pun dipersoalkan. Maka lenyaplah nama-nama berbau Belanda seperti Mientje, Saartje, Hans, Kees, Bram, Rudy dari Indonesia berganti dengan nama yang lebih “Indonesia”. Menjadi Indo pada masa itu menjadi sesuatu yang nista dan terhina. Mereka diminta untuk memilih, menjadi WNI atau kembali ke Belanda.

Sebelumnya, pada masa pendudukan Jepang orang Indo berada pada posisi sulit. Kalau ternyata dalam tubuh mereka mengalir darah Eropa lebih banyak persentasenya. Habislah mereka, masuk kamp interniran. Oleh karena itu Kantor Arsip Negara yang waktu itu bernama Kobunsjokan dikunjungi orang-orang Indo yang mengetahui asal-usul mereka. Mereka bisa bebas dari tawanan Jepang bila dapat menunjukkan bukti keturunan orang Indonesia. Berapapun persentase darah ‘pribumi’ yang mengendap dalam tubuh seseorang ketika itu sangatlah berharga dan menentukan hidup di dalam atau luar kamp Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang ini dan menjelang Proklamasi Kemerdekaan, kaum Indo mengalami perlakuan yang menyedihkan. Dalam bukunya, Anton Lucas menyebutkan bahwa peristiwa pembunuhan terhadap kaum Indo pada masa awal Republik Indonesia di bulan-bulan akhir di tahun 1945— yang berhubungan dengan Peristiwa Tiga Daerah—sebagai ‘masa-masa kacau’. Kaum Indo mengalami tindak kekerasan paling hebat terutama karena mereka dipandang sebagai orang-orang asing dengan kedudukan ekonomi yang istimewa, serta ada prasangka rasial kuat yang jadi salah satu pemicu berbagai kekacauan tersebut. Selain itu keberadaan mereka dikaitkan dengan keberadaan bangsa penjajah (baca: Belanda).

Menurut Prof. Djoko Soekiman dalam Kebudayaan Indis, pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Sedangkan grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan.

Pertumbuhan budaya baru (Indis) pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.

Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao. Istilah “Indis” ini sering disebut Indo yang tidak hanya terbatas pada percampuran budaya dengan Belanda tetapi dengan budaya lainnya.

Demikian pula Rogier Boon sebagai bagian dari kaum Indo yang berupaya menampilkan “identitas” ke-Indoannya tanpa melupakan akarnya yang bukan berarti mengorek masa lalu. Kalau Jan Boon alias Tjalie Robinson lebih dikenal sebagai “tukang cerita” atau penulis, maka Rogier dikenal sebagai “tukang gambar”. Sama-sama seniman. Maka peribahasa Belanda de appel valt niet ver van de boom (buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya) berlaku untuknya. Bahkan ayah-anak ini pernah bekerja sama. Ketika Tjalie mendirikan majalah bulanan gerilja (1955) yang hanya muncul dua edisi lalu mati, Rogier menjadi ilustratornya. Saat itu ia masih duduk sebagai mahasiswa Kunstnijverheidsschool di Amsterdam (kini Gerrit Rietveld Academie). Rogier pun bersedia membantu sang ayah ketika Tjalie mengambil alih majalah Onze Brug pada 1958 dan mengganti namanya menjadi Tong-Tong (sekarang Moesson). Selain itu Rogier juga menjadi ilustrator bagi buku-buku ayahnya Tjoek (1960), Piekeran van straatslijpers, Ik en Bentiet (1976).

Sehari-hari Rogier dididik dengan berbagai alasan mengapa hal yang bersifat Indo bukanlah masa lalu dan tidak boleh menjadi masa lalu. Karena itu ia selalu berusaha mencari gaya Indo asli yang baru dan modern. Rogier juga membiarkan dirinya terilhami oleh tradisi-tradisi dari berbagai wilayah di Asia dan budaya campuran (mestizo) lainnya. Misalnya budaya Meksiko. Motif dalam rancangannya yang kerap muncul adalah pohon (kehidupan). Rogier menggambarkannya dalam berbagai corak dengan caranya tersendiri. Tanaman digambar secara terpisah dari rimbunan dedaunan kecil. Pohon-pohon besar digambarnya pula seperti pada sampul buku Gordel van Smaragd karya Johan Fabricius.

Akhir tahun 1958 Rogier berkenalan dengan Ellen Derksen yang membantu redaksi Tong-Tong. Setelah berpacaran cukup lama pada tahun 1963 mereka menikah dan mereka dikaruniai seorang putri pada 1964. Hingga mereka memutuskan untuk berpisah tetapi tetap menjalin hubungan baik.

Periode paling produktif dan kreatif Rogier adalah selama Tjalie, ayahnya berada di Amerika Serikat (1962-1965). Ia membuat logo rubrik dan selalu menggunakan tangan bila membuat huruf. Berbagai ilustrasi dibuatnya untuk berbagai artikel dalam majalah Tong-Tong. Tiap artikel dihiasinya dengan ilustrasi detil dan terkadang dengan kartun.
Tahun 1973 Rogier mengadu nasib di Singapura. Di sana ia mendapat pekerjaan sementara. Lalu ia mencoba peruntungannya di kota kelahirannya, Jakarta. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan dan tinggal di Indonesia. Ketika itu ia masih bekerja untuk majalah Tong-Tong, menjadi koresponden. Hampir pada setiap edisi, ia mengirimkan artikel beserta foto-fotonya. Selain menjadi koresponden untuk Tong-Tong, Rogier juga bekerja pada berbagai biro iklan di Indonesia. Antara lain PT Perwarnal Utama dan perwakilan biro iklan Amerika di Indonesia, Ted Bates.

Pada awal 1980-an, Rogier kembali ke Belanda karena alasan kesehatan. Namun, istri dan kedua anaknya tetap memilih tinggal di Indonesia. Keterlibatan Rogier pada semua hal yang ‘berbau’ Indo tetap besar. Ia menghadiri reuni, debat serta mengunjungi Pasar Malam Besar sambil mengobrol dan menikmati jajanan dengan para kenalan dan orang yang belum dikenalnya. Rogier meninggal dunia pada tanggal 26 Januari 1995 pada usia 57 tahun.

Dalam pameran Rogier Boon ini ditampilkan berbagai karyanya. Antara lain cerita bergambar Wim is weg yang merupakan tugas akhirnya di Kunstnijverheidsschool Amsterdam, ilustrasi dan rancangan untuk majalah Tong-Tong, terutama logo kentongan yang menjadi ciri khas majalah tersebut. Yang tidak kalah menarik adalah karya fotografinya. Baginya itu merupakan ‘pertemuan kembali’ dengan Indonesia setelah hampir 20 tahun tidak aktif. Berbagai peristiwa yang jarang dapat dilihat di Belanda diabadikannya. Misalnya musim hujan dan banjir, penjaja jalanan serta pengalaman anak-anak yang juga merupakan bagian dari pengalaman dirinya sebagai “anak Betawi”.

Dibandingkan dengan masa Rogier, memang kaum Indo, terutama anak-anak Indo sekarang lebih beruntung. Kapitalisme yang didukung oleh globalisasi di mana-mana, menyerap wajah-wajah Indo ini dalam pasar dunia iklan atau hiburan. Dunia yang juga pernah digeluti Rogier Boon. Wajah-wajah mereka kini seolah ‘mewakili’ arus utama kecantikan atau ketampanan di masyarakat. Serta menjadi gambaran ideal bagi kesempurnaan fisik. Menurut Nuriana Juliastuti dalam artikelnya “Indis dalam Indonesia masa kini”, fakta mempunyai keturunan keluarga ras campuran menjadi penemuan yang menyenangkan, karena itu artinya tampang “bule” (begitu biasanya orang di Indonesia menamakan seseorang dengan wajah campuran) menjadi pintu masuk yang potensial untuk menjadi artis atau selebritis. Namun, seperti pesan Tjalie Robinson pada Rogier: “Jangan setengah-setengah menjadi Indo!”. Jangan sekedar kulit luarnya tanpa memerhatikan makna sesungguhnya menjadi Indo alias cuma jual tampang.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: