Kastengel

18 10 2007

Hari raya Idulfitri alias Lebaran sudah di ambang pintu. Semua umat Islam yang merayakannya tentu akan suka cita menyambutnya. Pun persiapan menyambut hari raya ini tentu sudah sejak jauh-jauh hari. Salah satu persiapan menyambut hari raya Lebaran adalah hidangan aneka macam kue yang disajikan untuk para tamu. Mulai dari kue ‘tradisional’ hingga ‘modern’ tersaji di meja tamu.

Di antara hidangan kue-kue itu ada dua macam kue kering yang sepertinya tak pernah absen yaitu kastengel dan nastar. Entah kapan kue-kue kering ini muncul pertama kali tapi sejak saya kecil, sekitar 30 tahun lalu kue-kue kering ini selalu tersedia. Bahkan saya yakin kue-kue tersebut sudah ada jauh sebelumnya. Zaman voor de oorlog alias Tempo Doeloe.

Kastengel adalah sejenis kue kering yang dipanggang di oven. Bentuknya sebesar jari kita dengan panjang sekitar 5 centimeter. Adonannya mirip dengan adonan nastar. Bedanya, adonan kastengel menggunakan keju dan akan lebih enak jika kita menggunakan keju (tua) dari Belanda. Kalau bisa keju Edam atau Gouda yang tua dan berbentuk seperti bola bowling dengan lapisan lilin merah. Rasanya, pahit-pahit gurih dan sulit dijelaskanlah. Sedangkan nastar menggunakan nanas sebagai isinya.

Sepuluh tahun lalu, seminggu sebelum Lebaran, kami sekeluarga masih sibuk membuat dua jenis kue kering ini. Namun, keju yang dipakai cukup keju lokal saja. Kalaupun menggunakan keju Belanda, itu pun hanya beberapa bongkah kecil saja. Sekarang ini, lantaran sibuk dan tidak ingin berpayah-payah, kami tinggal membeli saja. Meskipun tahu kastengel yang kami beli tak lagi berunsur keju karena terlalu banyak margarinenya.

Beberapa hari lalu, istri saya membeli beberapa kue kering, salah satunya kastengel itu. Namun, pada toples plastiknya ada yang mencantumkan castangels. Tidak hanya itu, ketika saya berjalan-jalan di sebuah supermarket saya melihat kastengel tapi dengan nama-nama, seperti castengel, chasstengel, dan khastengel.

Istri saya tentu tak peduli dengan berbagai nama alias dari kastengel itu. Ia hanya tahu bahwa itu kue dengan rasa keju titik. “Betul!,” kata saya tak mau kalah. Nah, kastengel memang kue kering dengan rasa keju karena jika kita telusuri asal- usul namanya akan kita temukan: kata kaas dan stengels yang berasal dari bahasa Belanda. Kaas berarti keju dan stengels berarti batangan. Oleh karena itu disebut kaasstengels atau batangan keju dan sekarang dikenal dengan kastengel.

Di Belanda, kue kaasstengels ini tidak sependek di Indonesia tapi panjangnya mirip mistar, sekitar 30 centimeter. Kue ini sangat digemari anak-anak karena rasanya yang gurih. Misalnya saja Melati dan Adinda, anak-anak sobat saya Dian di Haarlem, Belanda yang gemar mengudap kaastengel ini.

Kalau kita iseng menelusuri sejarah kuliner Indonesia, saya menduga resep kue ini dibawa oleh nyonya-nyonya Belanda di masa kolonial Hindia Belanda. Begitu masuk ke sini, lantaran oven yang ada tidak terlalu besar, maka kue dipotong kecil-kecil. Beradaptasi dengan peralatan di sini.

Begitupula dengan nastar yang ternyata juga berasal dari bahasa Belanda ananas dan taart. Ananas berarti nanas dan taart berarti kue tar. Jika digabung akan menjadi ananastaart, tar nanas. Tetapi kue tar nanas ini lebih mirip kue pai. Untuk kue nastar ini mungkin sudah diadaptasi dengan buah-buahan lokal di sini karena di Belanda nanas tidak tumbuh. Mungkin saja para nyonya Belanda mengadaptasi dari pai apel di sana.

Lebaran sudah dekat tapi toples berisi kastengel dan nastar tinggal separuh. Rupanya sambil bercerita tentang kue-kue ini, mulut terus saja berganti-ganti mengunyah kastengel dan nastar. Jangan takut, masih ada kue satu, kue sagu, kue sagon, kue semprong, kue semprit, rengginang, emping melinjo, dodol, geplak dan tape uli kiriman dari para tetangga. Selamat Idulfitri. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.


Aksi

Information

2 responses

16 11 2007
Renny Graciani

Halo Mas Achmad…salam kenal ya. wah bikin kastengel itu ternyata mudah loh. Lebaran kemarin saya juga baru belajar membuatnya dan hasilnya ngga kalah dengan yang ada di toko kue mahal. Asal keju edamnya banyak ajah. salam buat istri dan main-main ke blog-ku

1 12 2008
hones

Salamkenal mas Achmad…. jadi pengen bikin nih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: