Rindu Tempe

19 01 2008

Berita perajin dan pengusaha tempe-tahu yang berunjuk rasa kalah dengan berita kondisi kesehatan Pak Harto. Maklum saja, hampir setiap jam kondisi terakhir Pak Harto terus diberitakan. Padahal persoalan tempe-tahu pun tak kalah pentingnya.

Bicara mengenai tempe, sepertinya kita langsung menghubungkan dengan orang Jawa. Alasannya seperti yang diungkapkan sejarawan Ong Hok Ham, masakan tempe hanya dijumpai dalam kuliner Jawa. Sedangkan masakan Padang, Bali, Menado apalagi Makassar tidak mengenal tempe.

Dalam Encyclopaedia van Nederlandsch Indië (1922) disebutkan bahwa tempe yang terbuat dari kacang kedelai merupakan hasil fermentasi dan merupakan makanan sehari-hari penduduk. Mungkin sebaiknya kata penduduk, menurut Pak Ong dapat ditambahkan, menjadi penduduk Jawa.

Jauh ke masa silam dituliskan: “...Kadhele tempe srundengan, lombok kenceng lawan petis, gadhon rempah yem manjangan, gorengan empal lan gangsir, barongkos lawan masin, krupuk miwah sambel balur…” (Sinom 42, 43). Ini diambil dari kisah dalam Serat Centhini (Jilid 12) yang menggambarkan perjalanan Jayengresmi alias Amongraga –salah satu putra Sunan Giri – sampai di Dusun Bustam. Di tempat ini, mereka dijamu oleh Ki Arsengbudi dengan berbagai makanan dan salah satunya tempe kedelai.

Rupanya kedelai  yang ditulis kadhele itu tidak hanya termuat dalam Serat Centhini jilid 12 saja. Namun juga disebutkan di jilid 2 dan 3. Sementara itu kata kedelai yang ditulis kadele juga ditemukan dalam Serat Sri Tanjung, yang menggambarkan legenda tentang kota Banyuwangi. Diperkirakan latar waktunya pada abad ke-12 atau 13.

Pada masa pendudukan Jepang, para tawanan perang diberi ransum tempe agar terhindar dari disentri dan busung lapar. Mungkin hal ini yang mengilhami para penyusun menu ransum warga binaan di lembaga-lembaga pemasyarakatan untuk memasukkan tempe sebagai salah satu lauk.

Tempe dan tahu memang hidangan yang hampir selalu tersedia di meja makan bangsa kita. Mulai dari kelas warteg hingga restoran masakan yang mengandung unsur tempe dan tahu selalu tersaji. Tempe dihidangkan bersanding dengan daging, telur atau ikan.

Waktu SMA dulu, bila tanggal tua, nasi, sayur plus tempe menjadi hidangan favorit di warteg langganan dekat sekolah. Bahkan ada beberapa teman yang ‘terpaksa’ berhutang

Saya teringat pengalaman beberapa tahun lalu ketika ditugaskan di Ujung Pandang (sekarang Makassar). Sebuah tulisan dengan kapur di sebuah pintu kelas kampus tempat saya mengajar cukup mengusik. Isinya: “Jawa pulang ko!”  Tulisan itu mengingatkan saya pada tulisan “Dutch Go Home!” pada tahun 40-an usai Proklamasi Kemerdekaan. Saya merasa menjadi mirip ‘penjajah’ meskipun kedatangan saya ke Sulawesi semata-mata karena tugas.

Tulisan dengan kapur itu bukannya tanpa alasan. Ketika itu sedang ramai-ramainya upaya menurunkan Habibie dari tampuk kepresidenan. Beberapa mahasiswa mendatangi tugu Mandala dan mengibarkan bendera Sulawesi Merdeka. Mereka tidak ingin Habibie turun dari kursi presiden. Perasaan saya menjadi semakin tak enak. Mungkin karena saya merasa berasal dari Jawa. Kalau memang harus pulang ke Jawa, yah pulanglah saya meskipun baru beberapa bulan di sana.

Seketika itu pula saya teringat dengan tempe. Maklum, selama beberapa bulan tinggal di sana, saya selalu disuguhi berbagai hidangan dari ikan. Belum pernah menikmati tempe walaupun sekedar tempe goreng. Hmm!

Pada tahun 80-an saya pernah membaca di sebuah majalah wanita ibukota bahwa tempe dapat dijadikan alternatif makanan para vegetarian. Hidangan alternatif yang disajikan itu berupa burger tempe. Dengan demikian kita memiliki variasi hidangan tempe yang lain selain digoreng, dipanggang atau disayur.

Pembuatan tempe pun biasanya merupakan industri rumahan dan menggunakan tenaga manusia. Rasanya akan lebih enak jika tempe itu dibuat dengan tenaga manusia lalu dibungkus dengan daun pisang dibanding dengan buatan mesin serta dibungkus plastik seperti sekarang.

Ironisnya bahan baku tempe yaitu kedelai, 70 persen masih harus diimpor. Diimpornya pun dari Amerika, kampung Kolonel Sanders yang juga merambah Indonesia dengan ayam goreng tepungnya. Belum lagi tempe yang dipatenkan oleh Jepang. Bisa jadi jika Jayengresmi masih hidup akan geleng-geleng kepala.

Tempe memang makanan rakyat yang murah meriah. Hidangan yang tidak pandang pangkat dan usia serta dapat dinikmati dalam keadaan hangat maupun dingin. Presiden Soekarno pun menggemari tempe. Ironisnya, presiden Soekarno pernah mengatakan untuk tidak menjadi generasi tempe. Jangan mau jadi “bangsa tempe” atau bangsa yang diinjak-injak bangsa lain, serunya. Suatu hal yang merendahkan tempe. Mungkin saja maksudnya tempe yang lembek atau tempe bongkrek yang berasal dari ampasnya tempe. Kini tempe menghilang. Ah..”bangsa tempe” ini jadi rindu tempe!





Nasionalisme Turistik

6 01 2008

Di tengah bencana yang melanda Indonesia dan menelan banyak korban jiwa, pemerintah Indonesia menggelar Grand Launching Visit Indonesia 2008, 26 Desember 2007 lalu. Tema yang diusung adalah  memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional atau bahasa “gagah”nya Celebrating 100 Years of National Awakening.

Sebelumnya ada kesalahan tata bahasa dalam jargon promosi pariwisata tersebut. Kata National sebelumnya ditulis Nation sehingga kalimatnya menjadi Visit Indonesia Year 2008. Celebrating 100 Years of Nation’s Awakening. Mereka yang paham bahasa Inggris tentu tahu beda antara national dan nation.

Tentunya kesalahan ini dapat menimbulkan pertanyaan maksud dari jargon pariwisata Indonesia. Syukurlah pemerintah tanggap dan kesalahan ini teratasi. Jadi kasus “Indonesia is the big city” tak terjadi.

Kesalahan serupa rupanya pernah terjadi pada slogan pariwisata 1991 yakni “Let’s Go Indonesia” yang seharusnya ada sisipan kata “to” sebelum Indonesia. Namun, juri bicara Depbudpar menyatakan ketika itu slogannya tak diubah dan tidak ada masalah. Jelas tak bermasalah karena ketika itu tak ada yang peduli dan tanpa “to” artinya masih positif meski jauh dari niat.

Saya tak akan membahas kesalahan bahasa yang menurut juru bicara Depbudpar tak perlu dibesar-besarkan. Namun, mengutip seorang kawan saya Yusi A Pareanom, upaya itu dalam konteks ini termasuk praktek yang secara main-main disebutnya “Steven Seagalisme”. Sok gagah tapi sebenarnya mengundang tawa. Saya malah lebih setuju pada praktek “Stephen Chowisme”. Sok gagah, konyol, bahkan cenderung berlebih-lebihan tapi benar-benar lucu.

Nasionalisme versus chauvinisme
Tema promosi pariwisata yang merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional sebenarnya cukup menarik. Satu pilihan untuk membangkitkan kembali rasa optimis kita sebagai bangsa. Setelah sekian tahun seolah “tidur panjang” dan lupa bangkit.

Namun ada sesuatu yang masih mengganjal jika 1908 (dikaitkan dengan berdirinya Boedi Oetomo) dijadikan titik tolak kebangkitan nasional. Kritik terhadap organisasi Boedi Oetomo (BO) yang lebih bersifat kedaerahan (baca: Jawa), seperti yang dikemukakan beberapa sejarawan patut dipertimbangkan.

Dalam pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis jelas: “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis.” Tujuan itu memperlihatkan BO yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan. Di samping itu perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia dan tunduk terhadap pemerintah kolonial Belanda. Tidak mengherankan jika tak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda.

Lebih jauh lagi Prof. Sartono Kartodirdjo menyebutkan pidato Soetomo dalam Kongres Jong Java yang diselenggarakan oleh BO, 3-5 Oktober 1908, di ruang pertemuan sekolah guru di Jetis, Yogyakarta, memiliki dampak lebih besar bagi kebudayaan politik bangsa Indonesia, dibandingkan kongres pendirian BO sendiri. Dalam pidato Soetomo tersebut telah muncul sebuah kesadaran kolektif akan identitas sebagai kelas pribumi yang termarjinalkan.

Chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura tersebut telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.

Sementara itu, Asvi Warman Adam berpendapat peringatan Hari Kebangkitan Nasional termasuk dalam kontroversi sejarah Indonesia dengan fakta dan interpretasi pemerintah yang tidak lengkap. Asvi menunjuk Sarekat Islam yang berdiri pada 1905 lebih nasionalis meski organisasi itu menyandang nama agama. Ia menyarankan dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan mempersandingkan kedua organisasi perintis tersebut. Saya sendiri lebih memilih BO sebagai salah satu organisasi proto nasionalisme Indonesia walau itu masih bisa diperdebatkan lagi.

Bangsa yang bergerak
Kita kembali ke pilihan tema promosi pariwisata Indonesia 2008 yang mencanangkan target sekitar 7 juta wisatawan asing.  Mengapa wisatawan asing? Jelas karena mereka diharapkan dapat mendatangkan devisa 7 miliar dollar. Dengan asumsi target 7 juta wisatawan tercapai.

Lantas bagaimana dengan para wisatawan lokal yang juga berpotensi besar menghasilkan pemasukan negara. Mengacu pada kata “nation” dan “national” yang sempat jadi bermasalah, rasanya tidak berlebihan jika perhatian juga ditujukan pada wisatawan lokal. Bukankah tema yang diusung, Celebrating National Awakening (Peringatan Kebangkitan Nasional) memungkinkan hal tersebut. Indonesia sebagai satu bangsa bangkit dan bukan bangsa yang menunggu (A Nation in Waiting) berhak juga berplesir. Mengutip tekad optimis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa Indonesia is a nation on the move.

Namun, mengingat masalah dan bencana yang melanda bangsa ini bagaimana bisa berplesir. Memikirkan hidup hari esok saja sulit. Ah, itu pikiran negatif yang harus dilenyapkan karena tidak sesuai dengan optimisme presiden kita. Indonesia is a nation on the move.

Nasionalisme turistik
Jika kita kaitkan antara pariwisata dan nasionalisme di Indonesia ada benang merah yang menghubungkan keduanya. Saya meminjam istilah sejarawan Indonesia yang bermukim di Australia Iskandar P. Nugraha yaitu touristic nationalism (nasionalisme turistik). Maksudnya nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme seorang turis. Nasionalisme yang melihat tampilan-tampilan (display), menganggap sesuatu yang indah, kaya dan itulah Indonesia. Bukankah kita adalah bangsa yang suka menonton. Bahkan korban kecelakaan saja yang seharusnya dibantu malah jadi tontonan. Tentu kita ingat para korban bencana yang memasang tulisan: “Maaf, kami bukan tontonan”

Pendapat Iskandar itu melengkapi tesis yang dikemukakan oleh Benedict Anderson bahwa Indonesia adalah suatu Imagined Communities (Komunitas yang dibayangkan). Imajinasi Indonesia yang begitu kuat ada dalam alam pikiran bangsa Indonesia yang menganggap dirinya bagian dari satu bagian yang lain.

Namun, bukan berarti jika kita hanya mengenal kulit permukaan lalu mengatakan bahwa kita sudah mengenal secara keseluruhan. Bukan maksudnya jika seorang Jawa berlibur ke Tana Toraja lalu menyatakan bahwa ia mengenal budaya Sulawesi atau seorang Papua yang merapat di Pelabuhan Perak Surabaya lantas ia mengatakan sudah mengenal Jawa. Atau ekstrimnya kita pergi ke Taman Mini lalu mengklaim kita mengenal budaya seluruh Indonesia.

Bila kita ambil sisi positifnya bukankah pariwisata nasional (baca:lokal) lebih bermanfaat. Mengenal bangsa dan negeri kita sendiri melalui pariwisata. Memang dollar yang akan diraup tak akan sebanyak dollar para turis asing tapi siapa lagi yang harus mengenal diri kita sendiri selain kita bangsa yang sedang bergerak.