Bapak

22 02 2008

22 Februari lalu genap dua tahun bapak meninggalkan kami semua. Kenangan bergulir satu persatu. Saya masih ingat tetesan air mata bapak di ruang ICU ketika kami semua berkumpul di sana dan mengatakan melepas beliau dengan ikhlas. Tetesan air mata itu persis seperti yang saya lihat ketika beliau mendengar saya diterima di perguruan tinggi negeri.

Bapak tak meninggalkan warisan yang banyak karena kami bukan orang kaya dan juga tidak termasuk miskin. Kami, empat bersaudara pun tak terlalu meributkan itu. Satu warisan penting yang beliau tinggalkan adalah pendidikan. Alhamdulillah, kami semua menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sesekali bapak mengeluhkan biaya pendidikan si bungsu yang lumayan mahal. Namun, bapak tetap berupaya sekuat tenaga supaya si bungsu menyelesaikan pendidikannya.

Ada satu cerita beliau yang menggelitik. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, bapak dan saudara-saudaranya malas ke sekolah. Melihat hal itu kakek saya menunjuk pada sopir perusahaan (saat itu kakek saya bekerja untuk SMN (Stoomvaart Maatschappij Nederland- perusahaan pelayaran Nederland). Sang sopir yang keturunan Indo sedang asyik membersihkan mobil. Kakek berkata: “Kijk, als jullie lui zijn, dan worden jullie als hem!” (Lihat, jika kalian malas maka akan seperti dia!)

Kenyataannya, karena ada masalah keluarga, begitu lulus SD atau SMP, bapak ‘kabur’ ke Bandung. Di sana beliau menyelesaikan sarjana mudanya.  Sebenarnya beberapa tahun silam bapak ingin menyelesaikan sarjananya di sebuah PTS. “Diminta 5 juta!,” kata bapak sambil tertawa. “Sayang duitnya!,” tambahnya lagi.

Saya menduga hobi saya pada sejarah diturunkan olehnya. Semasa hidupnya bapak senang sekali menelusuri sejarah keluarganya. Hasilnya, hampir di setiap kota di Jawa ada yang masih berhubungan saudara dengan kami. Bahkan pernah mendapatkan warisan, entah dari saudara paman kakek buyutnya. Selain itu beliau sangat suka mobil-mobil antik. Kami pernah memiliki  GAZ Rusia, Toyota Land-cruiser, Landrover dan menjelang akhir hidupnya bapak ‘menghidupkan’ sebuah Fiat. Ibu hanya mengelus dada melihat hobi bapak. Sesekali ibu berkomentar: “Kalau orang senang mobil baru dari show room, yang ini senang mobil tua dari grass room (maksudnya di tempat penimbunan besi tua yang berlantaikan rumput, beratap langit)!”

Masih banyak kenangan tentang bapak. Namun, ada pesan yang akan selalu saya kenang, seperti bisikannya ketika saya harus meninggalkan tanah air, delapan tahun silam: “Jangan lupa shalat!” serta pada saat hari Lebaran kami yang terakhir bersama beliau: “Bimbing anak-anakmu kelak dengan baik!”

Pak, hanya doa yang bisa saya kirimkan serta pesan yang akan selalu saya ingat dan kerjakan!





Mandi dari Masa ke Masa

17 02 2008

‘Bangun tidur kuterus mandi…’ Inilah penggalan lagu anak-anak di Indonesia yang saya ingat mengenai kebiasaan di pagi hari. Kebiasaan yang ‘tabu’ dilakukan pada hari libur atau Minggu karena pada hari itu kita cenderung bermalas-malasan sebelum mandi. Namun, kebiasaan mandi khususnya di pagi hari, baik untuk kesegaran, memulai hari kita.

Ada satu hal yang tidak saya temui di Belanda yaitu bak mandi plus gayungnya. Tentu saja karena bak mandi tidak dikenal di Belanda. Di Belanda hanya ada badkuip atau bathtub dan pancuran (shower). Kalau pun ada bak, itu juga yang berukuran besar alias kolam (renang). Oleh karena itu dalam bahasa Belanda sebelumnya hanya dikenal baden (mandi di kolam atau sungai) dan douchen (mandi dengan pancuran). Barulah setelah mandi dikenal oleh mereka, kosakata mandiën akhirnya masuk dalam bahasa Belanda. Termasuk kata mandiebak (bak mandi), mandiekamer (kamar mandi), dan gajoeng (gayung). Tidak hanya itu, menurut sastrawan Louis Couperus, istilah sirammen juga dipakai yang mengacu pada urusan membersihkan tubuh ini.

Urusan membersihkan diri ini bagi orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda tentu sangat menarik karena di negeri asal mereka, apalagi jika musim dingin, mandi adalah suatu keterpaksaan. Bagi mereka tak perlu mandi, cukup membasuh atau mengelap tubuhnya. Lalu disemprotkan parfum, selesailah sudah. Maka ketika mereka menginjakkan kaki di negeri tropis ini, kebiasaan mandi adalah suatu keharusan. Jika tidak mau tubuhnya berbau harum.

Menurut sejarawan Anthony Reid, melimpahnya air merupakan salah satu ciri negeri tropis, khususnya Asia Tenggara. Oleh karena itu kelihatannya mereka tak perlu khawatir kehabisan air dan seolah tampak ‘boros’ jika membersihkan tubuh. Namun, saat ini persediaan air di beberapa kawasan dapat dikatakan begitu mengkhawatirkan.

Pada abad ke-17 orang Asia lebih dahulu memiliki kebiasaan mandi dengan menggunakan air mengalir dibandingkan orang Eropa yang antipati dengan kebiasaan itu. Orang Asia telah memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk membersihkan tubuh. Oleh karena itu mereka senang tinggal di tepi aliran sungai.

Jika tidak ada sungai, orang menuangkan seember air sumur di kepala mereka. Cara mandi seperti ini cenderung melarutkan bakteri tubuh bagian bawah menjauh dari kepala. Praktik ini lebih aman dibandingkan dengan mandi di dalam bak yang sama untuk semua anggota keluarga. Dimulai dari anggota keluarga tertua sampai termuda (bayi). Seperti yang dilakukan di negeri bercuaca dingin (Eropa).

Pada masa VOC, seperti halnya orang Portugis, orang Belanda yang ‘lebih berani’ pada air adalah kaum perempuan. Sementara itu kaum prianya ‘takut’ air alias enggan untuk mandi. Di kalangan orang Belanda di Batavia sendiri ada yang berpendapat pro dan kontra. Mereka yang terbiasa mandi, merasa tidak nyaman jika tidak mandi. Saat itu istilah yang dipakai adalah wassen (mencuci), bukan baden (mandi).

Pihak yang menganggap pentingnya mandi mengeluarkan peraturan khusus untuk para serdadu VOC yang mewajibkan mereka mandi setiap delapan atau sepuluh hari sekali. Namun, peraturan itu tak dipatuhi sebagaimana mestinya. Tetap saja mereka tak mau mandi. Maka dikeluarkan lagi peraturan susulan. Isinya para serdadu VOC di Rijswijk tidak boleh dipaksa mandi seminggu sekali.

Pada 1804, kelompok yang anti mandi mendapat angin dari Keuchenius, seorang dokter. Ia menyatakan mandi tidak perlu dan tidak baik untuk kesehatan. Keuchenius mengacu pada tempat mandi mereka di sungai yang secara detil digambarkan oleh J. Rach.

Tempat-tempat mandi pada masa VOC itu disebut paviljoentjes dan merupakan salah satu bagian dari gedung-gedung mewah milik para pembesar VOC. Di bawah tempat mandi berbentuk paseban itu dibuat semacam kerangkeng berterali kayu. Dalam kandang itulah, orang yang akan mandi turun ke bawah. Jelas, tempat mandi ini berada di udara terbuka.

Namun, pada abad ke-18 itu sudah ada pula kamar mandi tertutup dan setengah tertutup. Misalnya di halaman milik Reinier de Klerk di Jalan Gajah Mada (sekarang gedung Arsip Nasional). Menurut F. De Haan dalam Oud Batavia (1922) ada pula rumah-rumah besar pada masa itu yang memiliki waschhuis (rumah cuci) di halaman belakang rumah. Di tempat yang tak beratap itu disediakan tahang/tong kayu beserta gayung. Tempat semacam itu seringpula disebut mandihok (kandang mandi).

Pada masa berikutnya, melalui foto-foto tempo doeloe kita bisa menyaksikan sumur di halaman belakang rumah milik orang Belanda yang berfungsi sebagai sumber air kamar mandi. Kamar mandinya pun besar. Seperti kamar mandi rumah nenek saya di daerah Menteng (sekarang sudah rata dengan tanah) yang berukuran 2 x 1,5 x 1 meter. Jika harus membersihkannya kita pun harus masuk ke dalamnya.

Justus van Maurik, seorang pengusaha cerutu asal Amsterdam ini menceritakan masalah mandi ini. Menurutnya, di beberapa hotel di Hindia tergantung papan peringatan:
Het is verboden in den mandiebak te baden of het water met zeep te verontreinigen.” (Dilarang masuk ke dalam bak mandi atau mengotori air dengan sabun).

Menariknya pada 1 Juni 1861, seorang pengusaha bernama Victor Thornerieux membuka sebuah hotel di Molenvliet (di kawasan Harmoni) yang diberi nama Hotel de l’Univers, mungkin sebagai saingan dan membedakan dengan Hotel des Indes di seberangnya. Menurut iklan yang dipasangnya, Hotel de l’Univers dilengkapi dengan kolam mandi berisi air kali!

Sementara itu Augusta de Wit, salah seorang turis Belanda yang berkunjung ke Jawa pada akhir abad ke-19 menuturkan kesannya tentang mandi. Menurutnya mandi beberapa kali sehari adalah keharusan. Kalau tidak mandi berarti tidak sopan. Mandi di Hindia pun berbeda dengan di Eropa. Di Eropa ia biasanya hanya berendam tapi di Hindia ia harus mengguyur badan dengan bergayung-gayung air. Suatu kenikmatan untuk jiwa dan raga, tulisnya.

Ketika tinggal di Belanda, saya pun merindukan mandi gebyar-gebyur seperti di tanah air. Rasanya ada yang hilang, baik suaranya maupun kesegarannya. Maklum saja di sana, air begitu dihemat dan bila musim dingin, tak kuatlah badan kita mandi air dingin. Jadi bagi Anda yang terbiasa mandi gebyar-gebyur dengan gayung jangan harap bisa menemukan bak mandi di Belanda. Kalaupun rindu mandi di sungai, janganlah juga langsung ingin mandi di grachten (kanal-kanal) di sana karena bisa dianggap menganggu ketertiban dan disangka mabok. Lagipula airnya juga kotor.

Sebaliknya kita di Indonesia pun harus ingat jika mandi. Jangan terlalu memboroskan air yang tak perlu. Hemat-hematlah penggunaan air karena masih banyak orang di daerah lain yang kekeringan dan memerlukan air. Menyinggung masalah menghemat air, di sebuah toko di Amsterdam saya pernah melihat t-shirt bertuliskan unik: Save the water, I drink beer! Mungkin di Jakarta tulisan itu dapat kita ganti: Save the water, I drink bajigur!





Sepotong Kenangan tentang Pak Harto

3 02 2008

Minggu siang 27 Januari 2008, udara panas sekali. Kaos yang saya kenakan terpaksa dilepas karena basah oleh keringat. Komputer saya matikan karena tak tahan dengan panas siang itu. Tiba-tiba putera saya yang masih berusia 18 bulan menangis histeris. Bangun dari tidurnya. Saya melirik jam dinding, sekitar jam satu lewat. Kami kebingungan menenangkan dan membujuk si kecil yang menangis tak henti. Tak lama hujan turun cukup deras. Udara panas sirna seketika. Si kecil kembali terlelap dan kami pun ikut terlelap. Kelelahan.

Cukup lama hujan membasahi bumi dan akhirnya reda. Kami bangun. Saya bergegas berpakaian hendak ke minimarket membeli susu si kecil yang nyaris habis. Di depan rumah, di rumah tetangga berdiri bendera setengah tiang. Ada apa, pikir saya. Apakah? Saya minta istri saya segera menyalakan televisi. Innallillahi Wainnalillahi Rojiun. Pak Harto telah berpulang ke Rahmatullah.

Setelah sekian lama berjuang dengan sakit, setelah sekian lama banyak wartawan yang menunggu hingga kelelahan, setelah sekian lama berita sakitnya diekspos, dan setelah berbagai berita persiapan dari semua pihak diberitakan jam demi jam, bahkan masuk infotainment yang biasanya diisi berita artis, akhirnya Sang Khalik memanggil Pak Harto.

Kenangan baik itu buruk maupun baik tentu saja tetap terkenang oleh mereka yang memiliki kenangan tersebut. Saya pun mengenangnya sebagai seorang mantan presiden RI kedua yang bergelar Bapak Pembangunan. Yang jelas, selama saya duduk di bangku sekolah dasar tidak perlu repot menghapal nama-nama presiden. Tidak seperti di Amerika Selatan yang menurut komik Tintin bisa berganti presiden dalam hitungan jam. Setiap pemilu dan pemilihan presiden, pastilah beliau jadi pemenangnya. Hanya wakilnya yang berganti.

Siapa yang tidak mengenal film Janur Kuning (1979), Serangan Fajar (1981) dan Pengkhianatan G30S/PKI (1982) yang menjadi film wajib bagi pelajar?. Bagi saya yang ketika itu penggemar film-film perang Hollywood seperti Wild Geese-nya Roger Moore dan Richard Harris, Tora Tora atau film seri Combat di TVRI tentu film-film kolosal ala Indonesia itu sangat luar biasa. Meski kelak pada 1998 diumumkan oleh Menpen Yunus Yosfiah, film Janur Kuning, Serangan Fajar dan Pengkhianatan… tidak akan diputar dan diedarkan karena berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seseorang.

Namun, bagi seorang anak kecil seperti saya ketika itu yang berkesan dari film Serangan Fajar adalah Temon, tokoh anak-anak yang ditinggal mati ayahnya dan kelak menjadi pilot pesawat tempur. Dan pada film Pengkhianatan …, dua tokoh, seorang ibu dan anaknya yang berkelana di Jakarta lah yang justru mencuri perhatian saya. Selebihnya saya tertidur pulas di bioskop (kalau tidak salah TIM). Alasannya, banyak adegan ngobrol dan kepulan asap rokok tapi sedikit dar-der-dor meski darah tergenang di mana-mana.

Ada juga komik yang bagi saya sangat menarik. Komik ala Herge itu menggambarkan serangan ke Yogya dan tokoh heronya, siapa lagi kalau bukan Pak Harto. Saya tertarik pada goresan detail yang menggambarkan Bu Tien masa muda. Mirip sekali.

Selain itu, saya yang berhobi menulis surat atau korespondensi (dengan almarhum ayah saya yang bertugas di penjuru tanah air), perangko bergambar Pak Harto selalu “mengantarkan” surat-surat saya itu.

Menjelang lulus kuliah dan akhirnya menjadi asisten di kampus, setiap awal bulan selembar atau dua lembar “senyum” gagah Pak Harto di dalam amplop putih lah yang menjadi pelipur lara dan duka.

Tentu sepotong kenangan ini berbeda dengan kenangan Anda. Selamat Jalan Pak Harto….Semoga Amal Ibadahmu diterima di sisi Allah SWT.