Sepotong Kenangan tentang Pak Harto

3 02 2008

Minggu siang 27 Januari 2008, udara panas sekali. Kaos yang saya kenakan terpaksa dilepas karena basah oleh keringat. Komputer saya matikan karena tak tahan dengan panas siang itu. Tiba-tiba putera saya yang masih berusia 18 bulan menangis histeris. Bangun dari tidurnya. Saya melirik jam dinding, sekitar jam satu lewat. Kami kebingungan menenangkan dan membujuk si kecil yang menangis tak henti. Tak lama hujan turun cukup deras. Udara panas sirna seketika. Si kecil kembali terlelap dan kami pun ikut terlelap. Kelelahan.

Cukup lama hujan membasahi bumi dan akhirnya reda. Kami bangun. Saya bergegas berpakaian hendak ke minimarket membeli susu si kecil yang nyaris habis. Di depan rumah, di rumah tetangga berdiri bendera setengah tiang. Ada apa, pikir saya. Apakah? Saya minta istri saya segera menyalakan televisi. Innallillahi Wainnalillahi Rojiun. Pak Harto telah berpulang ke Rahmatullah.

Setelah sekian lama berjuang dengan sakit, setelah sekian lama banyak wartawan yang menunggu hingga kelelahan, setelah sekian lama berita sakitnya diekspos, dan setelah berbagai berita persiapan dari semua pihak diberitakan jam demi jam, bahkan masuk infotainment yang biasanya diisi berita artis, akhirnya Sang Khalik memanggil Pak Harto.

Kenangan baik itu buruk maupun baik tentu saja tetap terkenang oleh mereka yang memiliki kenangan tersebut. Saya pun mengenangnya sebagai seorang mantan presiden RI kedua yang bergelar Bapak Pembangunan. Yang jelas, selama saya duduk di bangku sekolah dasar tidak perlu repot menghapal nama-nama presiden. Tidak seperti di Amerika Selatan yang menurut komik Tintin bisa berganti presiden dalam hitungan jam. Setiap pemilu dan pemilihan presiden, pastilah beliau jadi pemenangnya. Hanya wakilnya yang berganti.

Siapa yang tidak mengenal film Janur Kuning (1979), Serangan Fajar (1981) dan Pengkhianatan G30S/PKI (1982) yang menjadi film wajib bagi pelajar?. Bagi saya yang ketika itu penggemar film-film perang Hollywood seperti Wild Geese-nya Roger Moore dan Richard Harris, Tora Tora atau film seri Combat di TVRI tentu film-film kolosal ala Indonesia itu sangat luar biasa. Meski kelak pada 1998 diumumkan oleh Menpen Yunus Yosfiah, film Janur Kuning, Serangan Fajar dan Pengkhianatan… tidak akan diputar dan diedarkan karena berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seseorang.

Namun, bagi seorang anak kecil seperti saya ketika itu yang berkesan dari film Serangan Fajar adalah Temon, tokoh anak-anak yang ditinggal mati ayahnya dan kelak menjadi pilot pesawat tempur. Dan pada film Pengkhianatan …, dua tokoh, seorang ibu dan anaknya yang berkelana di Jakarta lah yang justru mencuri perhatian saya. Selebihnya saya tertidur pulas di bioskop (kalau tidak salah TIM). Alasannya, banyak adegan ngobrol dan kepulan asap rokok tapi sedikit dar-der-dor meski darah tergenang di mana-mana.

Ada juga komik yang bagi saya sangat menarik. Komik ala Herge itu menggambarkan serangan ke Yogya dan tokoh heronya, siapa lagi kalau bukan Pak Harto. Saya tertarik pada goresan detail yang menggambarkan Bu Tien masa muda. Mirip sekali.

Selain itu, saya yang berhobi menulis surat atau korespondensi (dengan almarhum ayah saya yang bertugas di penjuru tanah air), perangko bergambar Pak Harto selalu “mengantarkan” surat-surat saya itu.

Menjelang lulus kuliah dan akhirnya menjadi asisten di kampus, setiap awal bulan selembar atau dua lembar “senyum” gagah Pak Harto di dalam amplop putih lah yang menjadi pelipur lara dan duka.

Tentu sepotong kenangan ini berbeda dengan kenangan Anda. Selamat Jalan Pak Harto….Semoga Amal Ibadahmu diterima di sisi Allah SWT.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: