I Move To “www.sunjayadi.com”

14 04 2008

Hallo teman-teman dan pembaca,

Mulai hari ini, 14 April 2008 seluruh content blog ini saya pindahkan ke www.sunjayadi.com

Jadi bagi anda yang ingin membaca postingan-postingan saya selanjutnya silakan kunjungi website saya.

Bisa klik disini

Terima kasih, Achmad Sunjayadi (Sangkelana)

_______________________________________________________

Dear readers and colleagues,

Since April 14, 2008, I moved all the content of this blog to my website www.sunjayadi.com

so if any of you would liked to continue reading my posts,  please visit and enjoy 🙂

Thank you, Achmad Sunjayadi (Sangkelana)





Bapak

22 02 2008

22 Februari lalu genap dua tahun bapak meninggalkan kami semua. Kenangan bergulir satu persatu. Saya masih ingat tetesan air mata bapak di ruang ICU ketika kami semua berkumpul di sana dan mengatakan melepas beliau dengan ikhlas. Tetesan air mata itu persis seperti yang saya lihat ketika beliau mendengar saya diterima di perguruan tinggi negeri.

Bapak tak meninggalkan warisan yang banyak karena kami bukan orang kaya dan juga tidak termasuk miskin. Kami, empat bersaudara pun tak terlalu meributkan itu. Satu warisan penting yang beliau tinggalkan adalah pendidikan. Alhamdulillah, kami semua menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sesekali bapak mengeluhkan biaya pendidikan si bungsu yang lumayan mahal. Namun, bapak tetap berupaya sekuat tenaga supaya si bungsu menyelesaikan pendidikannya.

Ada satu cerita beliau yang menggelitik. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, bapak dan saudara-saudaranya malas ke sekolah. Melihat hal itu kakek saya menunjuk pada sopir perusahaan (saat itu kakek saya bekerja untuk SMN (Stoomvaart Maatschappij Nederland- perusahaan pelayaran Nederland). Sang sopir yang keturunan Indo sedang asyik membersihkan mobil. Kakek berkata: “Kijk, als jullie lui zijn, dan worden jullie als hem!” (Lihat, jika kalian malas maka akan seperti dia!)

Kenyataannya, karena ada masalah keluarga, begitu lulus SD atau SMP, bapak ‘kabur’ ke Bandung. Di sana beliau menyelesaikan sarjana mudanya.  Sebenarnya beberapa tahun silam bapak ingin menyelesaikan sarjananya di sebuah PTS. “Diminta 5 juta!,” kata bapak sambil tertawa. “Sayang duitnya!,” tambahnya lagi.

Saya menduga hobi saya pada sejarah diturunkan olehnya. Semasa hidupnya bapak senang sekali menelusuri sejarah keluarganya. Hasilnya, hampir di setiap kota di Jawa ada yang masih berhubungan saudara dengan kami. Bahkan pernah mendapatkan warisan, entah dari saudara paman kakek buyutnya. Selain itu beliau sangat suka mobil-mobil antik. Kami pernah memiliki  GAZ Rusia, Toyota Land-cruiser, Landrover dan menjelang akhir hidupnya bapak ‘menghidupkan’ sebuah Fiat. Ibu hanya mengelus dada melihat hobi bapak. Sesekali ibu berkomentar: “Kalau orang senang mobil baru dari show room, yang ini senang mobil tua dari grass room (maksudnya di tempat penimbunan besi tua yang berlantaikan rumput, beratap langit)!”

Masih banyak kenangan tentang bapak. Namun, ada pesan yang akan selalu saya kenang, seperti bisikannya ketika saya harus meninggalkan tanah air, delapan tahun silam: “Jangan lupa shalat!” serta pada saat hari Lebaran kami yang terakhir bersama beliau: “Bimbing anak-anakmu kelak dengan baik!”

Pak, hanya doa yang bisa saya kirimkan serta pesan yang akan selalu saya ingat dan kerjakan!





Ketidaktahuan, Kemiskinan dan Penyakit: Mengenang Pak Fuad Hassan

12 12 2007

Jumat sore 7 Desember lalu saya mendapat kabar dari salah seorang rekan senior di kantor bahwa Prof. Fuad Hassan meninggal dunia. Saya terdiam lalu berdoa semoga beliau mendapatkan tempat di sisi Allah SWT. Saya teringat ketika “menyusup” ke dalam kuliah umum beliau di Fakultas Psikologi dua tahun lalu. Ketika itu istri saya yang sedang mengandung meminta saya mengantarkannya. Saya pun langsung mengiakan. Memang perkuliahan dan ceramah beliau sangat menarik. Tidak mengherankan beliau adalah salah satu dosen favorit di Fakultas Psikologi UI. Tidak banyak hal-hal njelimet yang dibebani pada pendengarnya.

Seperti halnya pada suatu Minggu siang di sebuah hotel berbintang di kawasan jalan Sudirman akhir tahun 2006. Sambil duduk terkantuk-kantuk lantaran usai makan siang dan ruangan ber-AC, saya mendengarkan uraian para pembicara mengenai globalisasi pendidikan. Sesekali saya terjaga karena suara tepuk tangan peserta lainnya. Hingga saya akhirnya benar-benar terjaga ketika giliran Prof. Fuad Hassan, guru besar Fakultas Psikologi urun bicara.

Ada hal menarik yang beliau ungkapkan pada siang itu sehubungan dengan tema yang diangkat dalam acara seminar itu. Menariknya adalah karena beberapa hal yang beliau bicarakan menurut hemat saya relevan dengan situasi sekarang, khususnya dunia pendidikan.

Menurut beliau ada tiga hal penting yang seharusnya menjadi perhatian kita semua. Pertama adalah upaya untuk menghapuskan ignorance (ketidaktahuan). Kedua yaitu penghapusan poverty (kemiskinan) dan terakhir disease (penyakit).

Bukankah kita semua akhir-akhir ini memang berkutat dengan ketiga hal tersebut. Upaya kita dalam menghadapi berbagai bencana alam di tanah air yang di luar kehendak sepertinya kurang memadai dan banyak keluhan di sana-sini sehingga kesannya kurang tanggap. Demikian pula kasus LuSi (lumpur Sidoarjo) yang sampai kini sulit ditemukan pemecahannya hingga dianggap “game over”. Bahkan masyarakat Sidoarjo sampai perlu mengadakan sayembara untuk menghentikan LuSi itu. Lalu “ekspor” asap akibat pembakaran hutan yang membuat gerah negeri tetangga. Terakhir, longsornya ribuan ton sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang , 8 September lalu yang mengakibatkan korban jiwa. Semua ini disebabkan karena ketidaktahuan kita dan bukan kebodohan kita dalam ‘menggauli’ teknologi yang berkembang dengan pesat serta tidak diimbangi pemahaman terhadap kearifan alam

Pun masalah kemiskinan sempat menjadi perhatian. Misalnya BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang menghebohkan karena dianggap proyek populis pemerintah ala sinterklas yang hanya membagi-bagikan uang. Akibatnya banyak orang yang tak malu mengaku-aku diri mereka miskin. Ironisnya, dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 16 Agustus 2006 beliau menyampaikan turunnya angka kemiskinan. Namun, angka-angka yang menjadi data tersebut diragukan karena dianggap tidak menggambarkan kondisi riil saat ini.

 Masalah penyakit juga perlu menjadi titik perhatian kita. Ancaman virus flu unggas (baca: flu burung) yang sudah menewaskan 44 orang dan menginfeksi 56 orang di Indonesia seharusnya ditangani secara serius. Terus bermunculannya kasus baru membuat negara-negara di dunia menuding pemerintah Indonesia dianggap tidak responsif, lamban, dan lalai dalam menanggulangi wabah flu burung ini. Kekhawatiran pun berlanjut karena bisa saja Indonesia dianggap menjadi sumbu pemicu pandemi global. Ini baru kasus flu burung, belum lagi virus H.I.V. serta penyakit lainnya seperti penyakit demam berdarah atau malaria.

Pemecahan yang ditawarkan oleh Prof. Fuad Hassan cukup sederhana yaitu pendidikan. Saya pun sependapat dengan beliau karena bila kita melihat negara-negara lain yang puluhan tahun lalu berada di bawah kita dan bahkan “berguru” pada kita, sekarang sudah melesat jauh.

Lagi-lagi, ironisnya pemerintah serta para elite kita tampaknya belum memedulikan bidang pendidikan dan sekedar mengangkatnya sebagai isu-isu populis pada waktu kampanye. Setelah para elite itu berhasil menjadi “pemimpin”, masalah politik dan ekonomi dirasa lebih penting hingga harus didahulukan dibanding pendidikan. Lihat saja berapa banyak sekolah-sekolah yang nyaris ambruk dan anak-anak yang putus sekolah. Coba bandingkan dengan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan yang berdiri megah. Padahal dengan mengembangkan pendidikan, kita berharap dapat menghapuskan ketidaktahuan (dan bukan kebodohan) itu. Pendidikan di sini bisa berwujud pendidikan formal maupun non formal. Idealnya, bila pendidikan ini benar-benar menjadi prioritas pemerintah, upaya menghapuskan ketidaktahuan akan terwujud. 


Bila ketidaktahuan itu telah dihapus, tentu akan memudahkan untuk menemukan cara menghapuskan kemiskinan. Karena hanya orang yang memiliki pengetahuan memadai yang bisa terlepas dari jeratan kemiskinan.Orang yang berpengetahuan pun sejatinya mempunyai kemampuan untuk bisa mengupayakan penghapusan penyakit. Mereka mempunyai cara bijak untuk mencegah penyakit menular. Hal itu dimungkinkan karena pengetahuan memadai mereka yang tentunya diperoleh baik di bangku pendidikan formal maupun non formal dengan sistem yang baik.  Namun, patut diingat pula, pendidikan yang dijalankan bukan sekedar “industri” pendidikan yang hanya mengajari anak untuk menghapal, tidak mampu mandiri/berinisiatif atau berfikir kritis. Tentu kita tidak mengharapkan akan menghasilkan “robot-robot” yang tidak kreatif dari “pabrik” pendidikan kita itu. Tapi justru manusia kreatif sebagai penerus generasi sekarang untuk menghadapi masa depan dan globalisasi. Oleh karena itu diperlukan sistem pendidikan yang memadai dan sesuai. Tidak sekedar ganti menteri, ganti kebijakan (baca: kurikulum).

Selain pendidikan, mungkin bisa saya tambahkan dengan kemampuan berbahasa yang baik, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing. Hal ini disebabkan bahasa merupakan salah satu media berkomunikasi yang cukup penting. Tidak jarang kita melihat atau mendengar karena “kegagapan” dan ketidakmampuan dalam berbahasa, meskipun itu bahasa sendiri, dapat  menimbulkan kesalahpahaman serius. Yang seringkali juga dapat menimbulkan konflik di antara kita.

Demikian pula dengan penguasaan bahasa asing karena globalisasi tidak bisa dielakkan lagi. Globalisasi sudah merebak ke mana-mana bagai tamu tak diundang. Sebenarnya, bangsa Indonesia tidak perlu khawatir dengan penguasan bahasa asing ini. Alasannya, kita sudah terbiasa dan terlatih berbicara lebih dari satu bahasa (bukan dialek pen.). Coba tengok berapa banyak orang di Indonesia yang mampu menguasai bahasa selain bahasa ibunya. Misalnya bahasa Jawa, Sunda, Batak atau Makassar. Di sini yang diperlukan hanya kerja keras, keuletan dan ketekunan untuk mau belajar. Pertanyaannya: masih punyakah kita keinginan bekerja keras, keuletan, ketekunan itu? Terutama untuk mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain.

Selamat jalan Pak Fuad!

 

 

 

 





Menulis atau Membuat Sejarah?

26 07 2007

Menarik sekali menyimak tulisan Pak Taufik Effendi “Kita Menulis Sejarah” di Sindo (29/1/2007). Ditambah lagi dengan ajakan untuk berpikir ke depan, berpikir maju yang beliau ibaratkan seperti mengendarai mobil. Sesekali bolehlah “melirik” kaca spion, siapa tahu ada mobil atau motor di kanan-kiri kita. Namun, bagi yang pertama kali belajar mengemudi mobil, rasanya hampir selalu ingin melihat ke arah kaca spion. Khawatir kalau-kalau, mobil kita diserempet atau menyenggol kendaraan lain. Apalagi jika kreditannya belum lunas dan tanpa asuransi, urusan bisa tambah runyam.

Lain ceritanya kalau kita memang mau berjalan mundur. Kita harus melihat spion atau menengokkan kepala ke arah belakang. Namun, kalau kita sedang belajar mobil tentunya kita berjalan sangat perlahan. Bahkan mungkin lebih lambat dibanding laju sepeda. Itu karena rasa takut menabrak tadi. Bukan lantaran ada papan peringatan seperti di daerah pemukiman yang kerapkali bertuliskan: “Ngebut Benjut!” plus gambar tengkoraknya.

Tentunya tulisan Pak Taufik Effendi itu bukan mengenai cara mengemudi mobil yang baik atau kecenderungan calon pengemudi yang selalu melihat ke arah spion. Yang ironisnya angka kecelakaan kendaraan bermotor terus meningkat. Saya terus berupaya mencari hubungan judul dengan isi tulisannya. Karena pada awalnya, saya mengira isi tulisannya merupakan ajakan beliau untuk menulis sejarah.

Secara garis besar, tulisan beliau mengajak kita untuk keluar dari “carut-marut”nya kehidupan di negeri ini. Intinya jelas, beliau “keberatan” dengan kritik-kritik tajam yang akhir-akhir ini ditimpakan pada pemerintah, tanpa membantu mencarikan solusi. Ditambah lagi bencana beruntun yang semakin memojokkan posisi pemerintah dalam posisi sulit. Cocok seperti yang diibaratkannya yaitu posisi serba salah. Maju kena, mundur kena.

Namun, itu semua salah siapa? Salah pemerintah atau salah para pengkritik (orang-orang bijak nan cerdas)? Yang jelas, kita jangan sampai mata gelap lalu menyalahkan keadaan apalagi Tuhan. Karena mungkin saja, apa yang kita alami ini merupakan buah perbuatan kita di masa lalu yang tidak kita sadari. Betapapun kecilnya perbuatan kita di masa lalu, kita semua akan menuainya (mendapat balasannya). Apakah itu perbuatan baik atau buruk. Bisa saja, tak ada yang salah karena kita hanya manusia “bodoh”. Yang membiarkan semua ini serta mau dipermainkan oleh nafsu. Terus-menerus, berulang kali.

Memang akan sangat melelahkan dan membuat kepala pegal jika kita terus-menerus menengok ke belakang. Kepala bisa kram dan kaku, akibatnya kita sulit untuk melihat ke arah depan. Apalagi kalau kita mengendarai sepeda motor, tentu sulit sekali. Ditambah lagi akan adanya aturan pelarangan sepeda motor di jalan protokol. Kepala tidak hanya pegal tapi pusing lantaran ongkos transportasi menjadi bertambah.

Sehubungan dengan judul tulisan Pak Taufik itu, sebenarnya menurut hemat saya generasi kini inilah (termasuk saya atau Anda semua) yang diharapkan untuk dapat “membuat “ sejarah dan tidak sekedar  “menulis” sejarah. Karena, apa yang terjadi dan generasi kini lakukan, juga akan dituliskan oleh generasi yang akan datang. Itu pun kalau generasi kini rela “dituliskan” sejarahnya. Karena ada juga yang hanya ingin “menulis” sejarahnya sendiri. Tentunya bisa saja semua berisi yang baik-baik saja. Sedangkan hal-hal dan perilaku negatif atau aib dihilangkan. Maka muncullah istilah “penggelapan” sejarah. Yang jelas bukan dibuat pada saat listrik padam dan hanya menggunakan lilin atau pelita.

Sejarah yang kita “buat” pada masa kini dapat saja menjadi sejarah “hitam” atau  sejarah “putih” di masa nanti tergantung bagaimana kita menyikapinya. Meminjam ungkapan Pak Taufik, ada berbagai cara dalam mencapai tujuan (yang sama). Namun, mohon maaf jika menurut saya, tidak semua punya tujuan yang sama dalam berbangsa dan bernegara ini. Apa yang tertulis tebal dengan tinta emas dalam pembukaan UUD 45, mungkin bagi segelintir orang hanyalah sekedar tulisan tanpa makna. Hasil rembukan orang-orang di masa lalu yang menurut segelintir orang itu tak lagi sesuai konteks jaman. Karena dalam prakteknya pun jauh panggang dari api. Akibatnya, ya seperti sekarang. Tak ada komitmen bersama. Yang ada upaya selamatkan diri masing-masing. Siapa cepat, dia dapat. Bagimu, golonganmu, bagiku golonganku.

“Membuat” sejarah memang lebih mudah dibandingkan “menulis” sejarah karena setiap orang mampu melakukannya. Walaupun itu belum tentu penting atau menarik untuk dituliskan. Ambillah contoh kasus lumpur Lapindo. Anggap saja, ada sekelompok ilmuwan yang mampu menghentikan luapan lumpur itu dan menjadikannya sumber energi alternatif murah. Nah, para ilmuwan itu telah “membuat” sejarah. Kelak, bila ada orang yang hendak menuliskan sejarah kota Sidoarjo, para ilmuwan itu bisa dimasukkan sebagai bagian dari sejarah Sidoarjo.

Sebaliknya, “menulis” sejarah juga tak segampang seperti yang orang pikirkan. “Menulis” sejarah bukan sekedar menulis sesuai ide yang ada di kepala karena itu bukan fiksi dan rekaan. Ada metode-metode yang harus dipatuhi serta diarahkan dengan teori-teori yang telah ada. Belum lagi penelusuran terhadap sumber-sumber sejarah itu sendiri. Lalu menelitinya apakah sumber-sumber itu valid dan bisa dipercaya. Karena sumber-sumber itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menjadi sumber sejarah. Misalnya kas bon seorang pegawai tahun 50-an atau daftar belanja ibu rumah tangga tahun 60-an. Kas bon dan daftar belanja itu bisa membantu kita menggambarkan kondisi keuangan pada masa itu. Yang terpenting adalah upaya rekonstruksi sejarah ini harus dilakukan dengan penuh ketelitian. Sehingga kita bisa menggambarkan situasi masa lalu sedekat mungkin.

Lain halnya jika kita sekarang berhati-hati dalam melangkah dan berbuat. Segala sesuatu dilakukan dengan cermat dan teliti kalau perlu dicatat. Dengan niat, kelak sengaja akan dijadikan sumber sejarah. Kalau begini, kita perlu tempat penyimpanan segala macam sumber sejarah (arsip, barang cetakan, rekaman, gambar, film, dsb) yang baik. Itu pun kalau generasi kini sadar sejarah dan tak abai dengan semua hal yang kita anggap penting dalam kehidupan kita.

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah tak ada sejarah yang tunggal karena itu bisa berbahaya dan dapat membodohkan. Biarlah, orang-orang “menuliskan” sejarahnya (menurut versi) masing-masing, asalkan sesuai dengan metode yang berlaku. Tidak ditambah-tambahi maupun dikurangi. Dengan kata lain, upaya penulisan dengan berbagai versi justru memperkaya kita dalam memahami masa lalu. Jadi daripada ditutup untuk sementara, lebih baik biarlah “garis batas” itu dibuka sehingga masa lalu tak sekedar lewat begitu saja. Seperti diktum seorang sejarawan terkenal bahwa setiap generasi menuliskan sejarahnya.

Rakyat kita sudah bosan dan jenuh dengan sikap-tingkah polah para “elit” yang terkadang membuat bingung. Belum lagi aneka tingkah yang membuat geli. Rakyat sudah kehabisan suara dan kata-kata, tak mampu lagi berteriak apalagi menangis karena air mata pun telah mengering. Mereka pun sulit “menagih” janji para “elit” yang dihamburkan pada saat Pesta Pemilu karena telanjur terlena. Lupa dengan janji mereka. Di sinilah para “elit” telah “membuat” sejarah yang akan dikenang oleh rakyat sepanjang hayat yaitu sejarah membodohi dan menipu rakyat.

Marilah kita “membuat” sejarah baik “hitam” (kalau mau) maupun “putih” walaupun tentunya “putih’ dianggap lebih baik. Kalau kita ingin “ngebut”, mengendarai mobil “Negara” ini, siapkanlah skill mengemudi, periksa kelengkapan mobil, pasang sabuk pengaman, dan siap dengan segala resikonya. Jangan seperti supir tembak yang mengejar setoran. Kita salip negeri-negeri jiran itu dan segera menjadi negeri yang besar. Ayo Bung!





Kebaya dan tubuh perempuan

1 05 2007

Tiap kelahiran Kartini pada 21 April, berbagai macam cara dilakukan untuk memperingatinya. Mulai dari lomba masak khusus bapak-bapak hingga peragaan busana (khususnya kebaya). Dari tahun ke tahun yang tidak pernah absen adalah anak-anak kecil hingga ibu-ibu yang mengenakan kebaya ala Kartini. Seolah-olah ingin menyampaikan kesan bahwa hari Kartini identik dengan kebaya. Coba bayangkan jika Kartini mengenakan gaun panjang ala Barat yang sedang trend di masa itu, apakah gaun ala Barat itu lah yang sekarang dikenakan?

Kebaya sendiri di masa Kartini dan sebelumnya juga dikenakan oleh perempuan Belanda yang dipadukan dengan kain batik hasil kreasi perancang-perancang peranakan Tionghoa dan Indo. Dalam salah satu koleksi Nieuwenhuys Met vreemde ogen: Tempo doeloe – een verzonken wereld (1988) terdapat foto seorang nyai dari tuan besar Belanda di abad ke-19 yang mengenakan kebaya sutera hitam dengan disemat tiga bros.
Namun, kain kebaya yang dikenakan pada abad ke-19 berbeda dengan kebaya yang dikenakan di masa VOC, terutama dalam hal jenis bahan dan potongannya. Kain batik yang dipadukan dengan kebaya ini pun coraknya beragam. Sekitar tahun 1830-an yaitu setelah kekalahan keluarga kerajaan dalam Perang Diponegoro (Perang Jawa dalam historiografi Belanda), batik sebagai bahan pakaian ekslusif bagi keluarga kerajaan dan kaum bangsawan diambil oleh Belanda dan dijadikan sebagai bahan pakaian pilihan. Bila sebelumnya para perempuan ningrat yang menjadi perancang pola batik, kini perancang batik diambil alih oleh perempuan Indo. Kain batik itu kemudian dijual kepada perempuan Indo lainnya.

Para perempuan Jawa keturunan bangsawan tetap mengenakan kain batik tulis dengan pola serta warna khusus. Kebaya mereka terbuat dari sutera, beludru dan brokat. Sementara itu para kebaya pagi perempuan Indo terbuat dari kain katun putih yang dihiasi renda buatan Eropa dan kebaya malam terbuat dari sutera hitam.
Kain dan kebaya, campuran adaptasi antara kebudayaan Jawa dan mestizo (baca: Indo) yang muncul kemudian, misalnya yang dikenakan oleh para nyai, terancam di masa pemerintahan Raffles. Ketika itu gaun terusan Eropa mulai diperkenalkan. Perlahan-lahan kain dan kebaya berpindah ke dunia yang lebih privat dan terbatas hanya dikenakan oleh kaum pribumi sebelum kelak kembali menjadi pakaian ‘wajib’ perempuan yang akan tinggal di Hindia menemani para suami mereka.

Kebaya menurut Jean Gelman Taylor merupakan kostum bagi semua kelas sosial pada abad ke-19, baik bagi perempuan Jawa maupun Indo. Bahkan ketika para perempuan Belanda mulai berdatangan ke Hindia sesudah tahun 1870, kebaya menjadi pakaian wajib mereka yang dikenakan pada pagi hari.

Pada akhir abad ke-19 para perempuan Belanda yang akan berangkat ke Hindia membeli pakaian tropis, sarung dan kebaya (seperti saran dalam buku panduan) di toko-toko yang khusus menjual pakaian tropis, seperti Gerzon’s dan de Bijenkorf. Meskipun sebenarnya untuk sarung dan kebaya disarankan untuk membelinya di Hindia. Hasilnya, seperti kritikan nyonya Catenius-van der Meijden, penulis buku Naar Indië en terug: Gids voor het gezin, speciaal een vraagbaak voor dames (tanpa tahun), panduan bagi perempuan Belanda yang hendak ke Hindia: ‘kebaya yang dibeli dengan harga mahal di Belanda terlihat konyol ketika dikenakan di Hindia’. Nyonya Catenius juga mengingatkan untuk tidak membawa pakaian terlalu banyak karena di Hindia: ‘semuanya, sangat murah, dibandingkan di Belanda.’

Kebaya dikenal pula sebagai kostum yang mewah dan anggun. Kebaya seakan-akan menyimbolkan ‘waktu yang hilang’ serta diasosiasikan dengan ketentraman, ketenangan dan keteraturan sosial yang menghubungkan orang Indo, Belanda, dan Jawa.
Sehubungan dengan identitas Indonesia adalah hubungan kekuasaan politik dengan kaum pria. Kostum nasional yang menurut Jean G. Taylor dikembangkan oleh Soekarno dan Soeharto terdiri atas setelan Barat (jas) bagi para pria dan kain kebaya bagi para perempuan. Kain dililitkan dengan kencang seakan mencegah gerakan yang cepat dan nyaman. Sementara kaum pria dapat bergerak dengan cepat dibalut setelan-setelan Barat.

Di masa Soekarno, kain dan kebaya kembali muncul di kalangan elit di wilayah publik dan mendapatkan status sebagai pakaian nasional. Menurut Saskia Wieringa dalam disertasinya “The Politization of gender relations in Indonesia:The Indonesian women’s movement and Gerwani until the New Order state”, sikap Soekarno terhadap perempuan tersebut lebih cenderung didorong oleh kekaguman dan hasrat dibandingkan keinginan tulus untuk memasyarakatkan persamaan hak.

Soekarno memang dikenal sebagai ‘pengagum’ perempuan berkebaya. Ia memiliki koleksi kebaya yang lumayan banyak. Kesan mengenai kebaya ini dituturkan oleh salah seorang menteri perempuan di masanya. Ketika itu sang menteri diminta menghadap Soekarno. Rupanya Soekarno ‘memarahi’ sang menteri karena ada suatu hal yang membuatnya tidak berkenan. Usai ‘memarahi’ sang menteri, Soekarno memanggil ajudannya. Tak berapa lama kemudian Soekarno datang membawa setumpuk kebaya dan memberikan pada sang menteri yang masih bingung.

Sementara itu dalam kesempatan yang lain, K’tut Tantri, seorang penulis perempuan Amerika yang sukses membuat naskah pidato bahasa Inggris untuk Presiden Soekarno diundang ke istana. Ia menghadap presiden dengan bersarung kebaya,. Ia terkejut karena melihat Presiden Soekarno berbusana santai. Sarung dengan jas pendek dan kopiah. Padahal gambaran sebelumnya yang ada di kepala Tantri adalah sosok gagah Soekarno yang bersetelan putih-putih atau seragam khaki. Alasan Bung Karno yang sebelumnya sudah berseragam lalu mengganti pakaiannya adalah: “Anda sudah repot-repot berdandan dengan busana nasional. Jadi kurasa sepatutnya Anda kuterima dengan pakaian nasional pula.” Dan seperti yang sudah kita duga, Bung Karno pun memuji kepantasan K’tut Tanri berkebaya

Kain sebagai pelengkap kebaya yang dililitkan kencang di tubuh perempuan memang seolah mencegah gerakan cepat dan nyaman, tetapi para perempuan modern Indonesia tidak kehabisan akal. Suatu jenis kain kebaya yang sering dikenakan pada acara-acara resmi adalah kain yang dijahit seperti sarung sempit lalu dilengkapi risleting. Sehingga mudah dikenakan dan dilepaskan.

Di atas-atas panggung publik tubuh perempuan yang mengenakan pakaian kebaya menunjukkan ciri khas bangsa ini sebagai non-Barat. Tubuh-tubuh para perempuan mewakili esensi bangsa, tradisi yang hidup dan terpelihara pada akhir abad ke-20. Tubuh perempuan sebagai pemakai kebaya yang dianggap ‘kostum nasional’ memberikan kesan seolah-olah perempuan adalah penjaga esensi nasional yang luput dari jamahan penjajahan. Ditambah lagi di masa sekarang tubuh perempuan tampaknya menjadi obyek semata yang perlu diundang-undangkan. Jauh dari keinginan dan cita-cita Kartini.





Sarung

3 04 2007

Menurut cerita, bangsa yang mengenakan sarung dianggap bangsa yang lamban dan cenderung malas. Masalahnya, sarung tersebut membuat sang pemakai menjadi sulit bergerak dengan cepat serta tidak bebas. Coba bayangkan, dengan lilitan kain yang membelit dari bawah pusar kita hingga ke mata kaki, apa sanggup kita berlari kencang bila dikejar anjing (gila). Tapi toh, cerita itu belum tentu sepenuhnya benar.

Bicara bebas, bukankah dengan mengenakan sarung juga bisa lebih bebas. Stop. Anda jangan yang berpikir yang bukan-bukan dulu. Bebas di sini berkaitan dengan sifat multifungsi serta kapan menggunakan sarung itu. Sarung dapat digunakan dalam berbagai acara, baik formal dan non formal. Mulai dijadikan pakaian kondangan, akad nikah (tidak selalu), untuk shalat, selimut penahan nyamuk di malam hari, bisa dijadikan tas serbaguna jika keadaan darurat ( ini sering dimanfaatkan oleh para maling konvensional yang juga menjadikan sarung sebagai topeng mereka), dijadikan kamar mandi darurat di kali sewaktu pergi kemping. Bahkan, para jawara di masa lalu juga menjadikan sarung sebagai asesoris sekaligu senjata yang setajam golok.

Nah, bicara lamban para pemakai sarung di Bali punya kiat sendiri yang terbukti jitu. Kain sarung tersebut mereka kenakan seperti mengenakan popok bayi. Bagian bawah sisi belakang sarung mereka angkat ke depan lalu digulung seperti biasa. Alhasil mereka bebas beraktivitas dan tidak lamban. Kalaupun ada yang lamban, itu karena mereka dasarnya malas saja. Bukan karena memakai sarung.

Sementara itu teman-teman di kalangan pesantren pun kerapkali disebut kaum sarungan. Alasannya, mereka biasa mengenakan sarung dalam setiap aktivitasnya. Tentunya, sekarang ini sudah berubah dan tidak semua santri di pesantren mengenakan sarung.
Apa memang sarung hanya dikenal dalam budaya Asia saja? Sepertinya memang begitu karena setahu saya sarung tidak dikenal di Eropa. Kecuali sarung kotak-kotak setinggi lutut milik orang-orang Skotlandia yang disebut kilt. Kalau Anda pernah menyaksikan film Brave Heart, di situ Anda bisa melihat Mel Gibson dengan ‘sarung’ Skotlandianya. Beberapa tahun silam, Michael Keadis, vokalis grup Red Hot Chilli Pepper, sewaktu membacakan salah satu nominasi MTV Award dengan cueknya mengenakan kain sejenis sarung berwarna gelap tanpa mengenakan pakaian alias telanjang dada. Padahal di negara kita yang puanas ini, memakai sarung tanpa busana sambil ote-ote adalah hal yang biasa. Apalagi setelah makan siang. Nikmatnya, gak tergantikan.

Ketika harus ‘nyantri’ ke Eropa saya sempat was-was tidak bisa mengenakan asesoris santai kegemaran saya ini. Rupanya rasa khawatir saya tidak terbukti. Teman-teman di sana yang di tanah air memang santri betulan rupanya tak melepaskan kebiasaan mereka sebagai pemakai sarung. Ya, tentunya mereka pakai di waktu santai karena tidak mungkin lah kalau lagi ‘nyantri’ dengan ‘kyai’ professor mereka mengenakan sarung. Sarung beraneka motif, ada yang kotak-kotak, garis-garis halus hingga batik ini akhirnya menjadi dress code tak resmi kami menjelang musim dingin. Tapi, tentunya tidak bisa sambil ote-ote seperti di tanah air. Lha, apa mau masuk angin londo?